Wisatawan menaiki dokar saat pelaksanaan tradisi Puter Kayun di Banyuwangi. (BP/udi)
BANYUWANGI, BALIPOST.com – Jalur pantai utara (pantura) yang membentang dari utara Banyuwangi hingga Anyer, Banten, menyimpan sejarah unik. Salah satunya, proses pembobolan gunung batu di utara Banyuwangi.

Berkat bantuan orang sakti dari Banyuwangi, proyek itu bisa terlaksana di masa Bupati Banyuwangi pertama Mas Alit. Untuk mengenang peristiwa itu, warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi menggelar tradisi puter kayun, Selasa (4/7).

Tradisi berkeliling menggunakan dokar ini dimulai pagi hari. Warga berkumpul di perempatan kelurahan setempat, lalu bergerak menuju Pantai Watudodol, di utara kota Banyuwangi. Selama iring-iringan, angklung, musik khas Banyuwangi dibunyikan. Suasana meriah.

Tiba di pantai, warga menggelar selamatan, dipimpin sesepuh warga. Ritual diakhiri dengan pesta tumpeng, lalu mandi bersama di laut. “Ini tradisi mengenang leluhur kami, Ki Buyut Jakso yang dimintai tolong menggempur gunung batu yang sekarang menjadi Watudodol,” kata Moh. Ikrom, tokoh adat Kelurahan Boyolangu.

Pria ini menjelaskan kala itu, Belanda ingin membangun jalan tembus dari Situbondo ke Banyuwangi. Namun, ketika melewati utara Ketapang, ada gunung batu yang sulit ditembus. Akhirnya, Bupati Banyuwangi kala itu, Mas Alit, menggelar sayembara. Ki Marto Joyo alias Ki Buyut Jakso mengikuti sayembara tersebut. Akhirnya berhasil. Gunung batu berhasil dibobol.

Baca juga:  Minggu, Pujawali Pura Dasar Buana Gelgel Dimulai

Namun, ada satu syarat dari penunggu gunung tersebut. Yakni, menyisakan sebongkah batu di lokasi (kini menjadi Watudodol, batu di tengah jalan) dan setiap tahun keturunan Ki Buyut Jakso berkunjung ke Watudodol. “Akhirnya, sejak itu, keturunan Ki Buyut Jakso selalu menggelar puter kayun ke Watudodol untuk mengakhiri Lebaran,” jelasnya.

Kebetulan kata Ikrom, warga setempat dahulu menjadi pusat kusir dokar. Sehingga, saat puter kayun selalu menggunakan armada dokar. Namun, belakangan, dokar mulai tersisih. Bahkan, kini hanya tinggal 10 unit.

Dahulu, lebih dari 50 unit. Meski begitu, warga tetap mempertahankan tradisi menggunakan dokar. Kini, warga yang bertahan sebagai kusir dokar tak lagi sebagai angkutan umum, tapi dokar wisata.

Ritual puter kayun ini sudah menjadi salah satu agenda pariwisata di Banyuwangi. Tak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan asing ikut memeriahkan tradisi ini. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.