Pasien
Keluarga pasien penderita kanker usus menunjukkan berkas administrasi perawatan sebelum diberikan jadwal operasi di RSUD Buleleng. (BP/ist)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Made Gunaka (57) warga Desa Depeha Kecamatan Kubutambahan, pasien penderita kanker usus, gagal menjalani operasi di RSUD Buleleng. Setelah administrasi dan mendapat jadwal operasi, Gunaka justru batal menjalani operasi. Konon, pembatalan operasi tanpa alasan dari menejemen RSUD. Merasa tidak nyaman dengan pelayanan di rumah sakit plat merah itu, keluarga pasien akhirnya memutuskan tidak melanjutkan perawatan di RSUD Buleleng.

Gunaka mengalami kanker usus sejak delapan bulan lalu. Dia menjalani perawatan menggunakan Kartu Indonesia Sehat. (KIS). Dari pemeriksaan dokter menyarankan pasien harus menjalani operasi. Syarat administrasi yang diwajibkan sudah dilengkapi. Karena adminsitarsi lengkap, Jumat (23/6) keluarga pasien telah menerima jadwal operasi di ruang OK RSUD Buleleng Sabtu (24/6) hari ini.

Tidak berselang lama, tiba-tiba keluarga pasien menerima kabar dari petugas di ruang Kamboja RSUD Buleleng. Petugas yang tidak diketahui identitasnya itu menyampaikan bahwa jadwal operasi dibatalkan. Anehnya, pembatalan itu tanpa alasan yang tidak jelas.

Anak pasien Gunaka, Ketut Joli Sukrawan menceritakan, karena jadwal operasi orantuanya dibatalkan, dia tidak bisa berbuat bayak dan terpaksa mengantar orangtuanya kembali ke rumahnya di Depaha. Dia berusaha meminta penjelasan petugas di ruang Kamboja RSUD Buleleng. Keterangan petugas ruang kamboja menyebut, ruang OK tidak bisa melayani operasi pasien bersangkutan. Penjelasan itu tidak membuatnya puas dan mencoba menghubungi dokter Cok Parta yang mengangani sakit orangtuanya. Dari keterangan dokter, menyatakan alasan tidak menerima pasien bersangkutan karena tidak diijinkan pihak manajemen keuangan.

“Dari pemeriksaan itu masih ada tumor dan disuruh operasi. Saya melengkapi adminsitrasi dan jadwal operasi sudah diberikan, tapi dibatalkan sepihak. Dokter yang menangani juga saya telepon dan justru dokternya dibilang merugikan rumah sakit karena menerima operasi bapak saya. Saya bingung ke mana saya minta tolong dan satu-satunya cara yang bisa nolong Bupati, Wakil Bupati dan DPRD lainnya,” katanya.

Baca juga:  Evakuasi saat Gempa, RS Sudah Punya SOP

Sukrawan menambahkan, kanker usus yang diderita ayahnya sejak delapan bulan lalu. sejak divonis menderita kanker usus, orangtuanya pernah menjalani operasi di RSUD Buleleng. Pasca operasi pertama, kondisi kesehatan orangtuanya berangsur-angsur membaik. Tidak berselang lama, penyakitnya kembali kambuh. Bahkan, sejak 20 hari lalu  ayahnya tidak bisa buang air besar (BAB-red). Beruntung, nafus makan maish bagus, sehingga kondisinya kesehatannya maish stabil. Kahwatir sakit orangtuanya bertambah parah, dia kembali memeriksakan orangtuanya ke RSUD. Dari pemeriksaan dokter disarankan untuk menjalani operasi (24/6) hari ini.

“Takutnya penyakitnya tambah parah apalagi sudah lama tidak BAB dan waktu periksa ke rumah sakit disuruh operasi dan dijadwalkan besok (Sabtu 24/6), tapi entah mengapa jadwal dibatalkan,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD Buleleng dr. Gede Wiartana, M.Kes. menyatakan, antara menejemen dengan keluarga pasien terjadi mis komunikasi. Dikatakan, pasien tidak bisa dioperasi di RSUD karena dari diagnose dan kordinasi dokter pasien perlu dirujuk ke RSUP Sangglah. Selain itu, penanganan lanjutan sifatnya urgen hanya bisa dilakukan di RSUP Sangglah. “Bukan karena masalah biaya, tetapi penyakitnya ini memerlukan penanganan urgen dan harus dirujuk ke Sangglah,” tegasnya. (mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.