petani
Seorang petani di Subak Lagaan sedang merawat tanaman padinya yang baru tumbuh. (BP/dok)
BANGLI, BALIPOST.com – Sebanyak 10 hektar lahan sawah yang ada di Subak Barong Desa Bunutin Bangli mengalami alih komoditi ke tanaman nonpangan. Kondisi itu terjadi akibat hilangnya sumber air yang selama ini mengairi lahan sawah di subak setempat.

“Lantaran sumber airnya sudah hilang, ada 10 hektar lahan sawah di Subak barong yang dulunya ditanami padi kini sudah beralih komoditas ke tanaman cengkeh,” kata Sekretaris Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma didampingi Kasi Produksi Tanaman Pangan, I Nengah Pugra Winata saat ditemui Selasa (6/6).

Selain menyebabkan terjadinya alih komoditi ke tanaman nonpangan, berkurangnya debit air selama ini juga menyebabkan menurunnya intensitas penanaman padi di sejumlah subak di Bangli. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas PKP, sekitar 464 hektar lahan sawah yang ada di wilayah Kecamatan Bangli, Tembuku dan Susut mengalami penurunan intensitas penanaman padi.

Disebutkan Sarma, jika semula petani di wilayah tersebut bisa menanam padi hingga 2-3 kali dalam setahun, namun sejak beberapa tahun terakhir penanaman padi hanya bisa dilakukan petani satu kali dalam setahun.

Baca juga:  Aston Denpasar Berikan Donasi ke 2.431 Pengungsi Gunung Agung

Dia mengatakan, adanya alih komoditi dan berkurangnya intensitas penanaman padi di Bangli sangat berpengaruh pada produksi beras di Kabupaten Bangli. Saat ini produksi beras di Bangli baru mencapai 16 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan beras di Bangli mencapai 25 ribu ton per tahun. “Dari data tersebut memang hingga saat ini Bangli masih mengalami kekurangan beras,” ujar Sarma.

Untuk meningkatkan intensitas penanaman padi termasuk palawija, pihaknya mengaku telah melakukan upaya-upaya dengan menggandeng TNI, Perguruan Tinggi, BPTP melalui kegiatan pembinaan-pembinaan kepada masyarakat. Pihaknya juga melaksanakan program upaya khusus untuk peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai (pajale). “Kebutuhan beras selama ini memang masih kurang, tapi karena didukung oleh produksi non beras seperti ubi jalar, ubi kayu dan lain-lain kebutuhan pangan di Bangli sudah surplus,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.