danau
Pengayuhnya tak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. (BP/sos)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Warga di Dusun Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar yang pernah tergusur dari tempat tinggalnya dipinggiran Danau Tamblingan tak lagi sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil menangkap ikan. Sejak dua tahun, mereka memilih untuk lebih fokus menjadi tukang kayuh kano, mengantarkan wisatawan ke dalam danau. Itu dilakukan dengan melawan panas dan dingin.

Keindahan danau tamblingan tak perlu diragukan lagi. Airnya jernih, lingkungannya masih sangat asri. Suasananya pun sangat tenang, tak ada hirup pikuk. Udara terasa sejuk, sangat segar saat dihirup. Tak hanya itu, dari danau ini juga dapat menyaksikan matahari terbit. Sungguh sangat indah. Di sekitar danau juga ada sejumlah pura yang bangunannya sangat klasik dengan arsitektur Balinya.

Segudang keunikan itu tak hanya mampu menghiptonis masyarakat lokal untuk berkunjung. Wisatawan asing dari berbagai negara juga tak ingin ketinggalan. Kesempatan ini pun tak ingin ditinggalkan oleh masyarakat setempat. Mereka menawarkan wisata cano untuk berkeliling di danau tersebut.

Menariknya, itu tak hanya dilakoni laki-laki, tetapi juga perempuan. Salah satunya Ketut Toni. Meskipun tidak menguasai bahasa asing, keberaniannya untuk menghampiri wisatawan tak diragukan lagi. Dengan mengenakan pakaian adat madya, sambil menggenggam dayung, ia sabar menunggu kunjungan.

Disela-sela itu, perempuan paruh baya ini menuturkan profesi ini dilakoni sejak dua tahun lalu. Itu bukan tanpa alasan. Himpitan ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. “Ini sudah mulai dari dua tahun lalu. Saya tidak sendirian, tetapi berkelompok,” ujarnya, belum lama ini.

Baca juga:  Perempuan, Benteng Utama Pencegahan Korupsi

Setiap harinya, Toni memulai aktivitasnya sekitar pukul 08.00 Wita hingga pukul 15.00 Wita. Namun, demi sesuap nasi, tak jarang juga harus mulai pukul 04.00, tepat saat matahari terbit, mengantar wisatawan yang hendak praweding.

Pekerjaannya yang bersentuhan langsung dengan alam tak selamanya berjalan mulus. Terkadang, dalam sehari, satu pun tak ada wisatawan yang ingin naik cano. Tak jarang pula ia harus melawan dinginnya udara dan panas matahari. “Kadang kalau kunjungan ramai, bisa dapat Rp 200 ribu. Tapi kadang juga tidak dapat apa seharian,” tuturnya.

Meskipun hasilnya tak menentu, ia tetap menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama. Profesi serupa juga dilakoni Wayan Siniari. Itu dilakukan sesaat setelah rumahnya yang berdiri di pinggir Danau Tamblingan tergusur. Meskipun terasa berat, ia masih mengaku beruntung lantaran tuhan masih memberikan ruang untuk mengais rejeki. “Dulu sebelum rumah tergusur, saya hanya menangkap ikan di danau. Itu yang dijual,” ucapnya.

Sembari membersihkan rumput liar di pinggir danau, Siniari mengatakan sewa naik cano ini bervariasi, menyesuaikan dengan rutenya. Namun, khusus untuk praweding, biasanya kisaran Rp 300 ribu. Uang itu tak langsung masuk ke kantongnya, melainkan masih terbagi ke adat. “Upah itu juga masuk ke kelompok, ada di kumpulkan untuk beli cano. Sekarang jumlahnya masih sedikit. Itu sebabnya hanya bisa dapat giliran tiga hari sekali,” ungkapnya. (sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.