TABANAN, BALIPOST.com – Akibat serangan organisme penganggu tanaman (OPT) pada padi membuat 15 hektar tanaman padi di wilayah Kerambitan mengalami puso atau gagal panen. Terjadinya puso pada luasan tersebut akibat diserang hama penggerek batang. Tidak hanya itu, di wilayah yang sama juga terjadi kerusakan tanaman padi dari ringan hingga berat karena serangan tungro, wereng dan tikus.

Kabid Pengembangan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, Wayan Suandra, Rabu (12/4) memaparkan untuk wilayah Kerambitan memang terjadi serangan OPT yang menyebabkan puso. Untuk serangan hama penggerang batang, selain 15 hektar gagal panen juga terjadi kerusakan berat seluas 12 hektar, kerusakan sedang 9 hektar dan kerusakan ringan 9 hektar sehingga total tercatat 31 hektar luas tanaman padi di wilayah Kerambitan terserang hama penggerek batang.

Selain itu juga terjadi kerusakan ringan akibat serangan tikus seluas 31 hektar, kerusakan ringan dan sedang masing-masing 21 hektar dan satu hektar untuk Tungro dan  14 hektar kerusakan ringan akibat wereng coklat.

Menurut Suandra serangan OPT ini sebenarnya tidak  terjadi di wilayah Kerambitan saja tetapi menyebar di wilayah lainnya di Tabanan. Hanya saja, yang terlihat paling banyak memang terjadi di Kerambitan.

Mengenai banyaknya OPT yang muncul menyerang tanaman padi lanjut Suandra jika dilihat dari siklus hal ini terjadi biasanya lima tahun sekali. Namun, serangan OPT bisa saja tidak mengikuti siklus apabila cuaca sangat mendukung pertumbuhan OPT terutama perubahan cuaca yang ekstrem. ‘’Kondisi cuaca ekstrem terjadi di musim tanam kali ini. Dimana hujan lalu diselingi panas. Kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan OPT,’’ paparnya.

Baca juga:  Perkuat Ketahanan Pangan, Pemkab Klungkung Jalin Kerja Sama dengan Jepang

Akibat serangan OPT ini diakui Suandra akan terjadi penurunan harga gabah bagi padi yang terserang. Hanya saja ia tidak bisa memastikan berapa penurunan harganya, sebab hal tersebut tergantung dari kesepakatan petani dengan pengepul. Namun, untuk gabah yang baik harganya tetap yaitu sekitar Rp 4100 hingga Rp 4300 per kilonya.

Langkah-langkah yang diambil Dinas Pertanian untuk serangan OPT adalah membantu penyediaan obat-obatan untuk pengendalian OPT. Meski demikian diakuinya pengadaan obat-obatan ini terbatas dan Petani kebanyakan mengadakan pemenuhan obat secara swadaya. Sementara untuk tikus Suandra menghimbau petani di subak untuk melakukan sanitasi dan kebersihan lingkungan secara serentak. Sebab. Sanitasi dan lingkungan yang kotor serta rimbun dengan rerumputan menjadi tempat strategis untuk tikus berkembang biak. ‘’Setelah panen, petani melakukan tindakan sekala niskala. Yaitu melakukan persembahyangan sebelum melakukan pemasangan umpan atau kegiatan ngropyok untuk menangkap tikus,’’ tuturnya.

Salah satu petani di Subak Bengkel Kerambitan, I Nyoman Sugi (70) mengaku lahan 50 arenya hampir seluruhnya terkena wereng coklat. Hal ini menyebabkan bulir pada padi tumbuh jarang-jarang. ‘’Ada bulirnya hanya jarang-jarang,’’ ujarnya. Padahal ia sudah melakukan tindakan penyemprotan pada tanaman padinya namun tidak terlalu berhasil. Karena hasil gabahnya tidak begitu baik, Sugi memutuskan untuk tidak menjual hasil panennya tetapi untuk konsumsi pribadi. (wira sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.