zaman
Kusir dokar di Klungkung sedang menunggu penumpang. (BP/ina)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Dokar pernah menjadi alat transportasi yang cukup digemari masyarakat Klungkung di era tahun 60-an. Ramainya masyarakat yang memanfaatkan dokar sebagai alat transportasi membuat jumlah dokar kala itu cukup banyak hingga puluhan. Namun seiring perkembangan zaman dan membanjirnya alat transportasi modern seperti sepeda motor dan mobil, keberadaan alat transportasi yang mengandalkan tenaga Kuda ini kian terpinggirkan.

Saat ini jumlah dokar yang masih beroperasi di bumi serombotan bisa dihitung dengan jari. Wayan Dunung (65), salah seorang kusir dokar yang beroperasi di wilayah kota Klungkung Jumat (31/3), menuturkan dokar ramai dipakai sebagai alat transportasi pada tahun 60-an. Kala itu dokar yang beroperasi di Klungkung jumlahnya lebih dari 75 unit dengan layanan rute dari kota Klungkung ke Gelgel, Tangkas, Lepang dan sejumlah desa lainnya.

Sekitar tahun 80-an, keberadaan dokar berlahan mulai tergeserkan oleh alat transportasi modern bertenaga mesin. Banyaknya angkutan kota yang beroperasi dan kepemilikan kendaraan pribadi saat itu membuat keberadaan dokar semakin ditinggalkan. “Karena sepi penumpang, jumlah dokar semakin berkurang,” ujarnya.

Dunung mengatakan, saat ini jumlah dokar yang masih bertahan beroperasi di kota Klungkung hanya tiga unit. Itupun dengan usia kusir yang rata-rata sudah uzhur. Dokar yang ada saat ini, kata Dunung hanya melayani rute dekat di seputaran kota.

Baca juga:  Akhirnya Setelah 28 Tahun, Mahkota GWK Terpasang

Dunung mengungkapkan, sekarang ini warga yang masih mau menumpang dokar hanya kalangan ibu-ibu yang berbelanja ke pasar. Sangat jarang ada anak muda yang mau memakai jasa dokar.

Hal yang sama juga diungkapkan kusir dokar lainnya Ketut Dania (55). Kusir asal Semarapura Kelod itu mengatakan bahwa jangankan dokar, saat ini keberadaan angkutan umum sudah banyak ditinggalkan masyarakat. Membanjirnya kendaraan sepeda motor dan mobil membuat angkutan umum apalagi dokar sudah tidak diminati lagi.

Dania mengatakan karena sedikitnya masyarakat yang mau menggunakan dokar sebagai alat transportasi, dalam sehari dirinya hanya bisa mendapat penumpang sekitar 3-5 orang. Per satu kali antar tarif yang dikenakan kepada penumpang antara Rp 5-10 ribu tergantung jarak.

Untuk melestarikan keberadaan alat transportasi tradisional ini, Pemerintah Kabupaten Klungkung kata Dania sejatinya pernah merancang agar dokar bisa dipakai sebagai alat transportasi wisata oleh wisatawan yang berkunjung ke Klngkung. Hanya saja sampai saat ini rancangan tersebut tinggal rancangan. “Selama ini sama sekali tidak ada turis yang medokaran. Mungkin karena tidak ada yang mengarahkan,” ujarnya. (dayu rina/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.