perajin
Seorang perajin di Desa Besan Kecamatan Dawan saat menunjukan cara membuat gula merah. (BP/ina)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Anjloknya harga gula merah akibat membanjirnya peredaran gula merah oplosan di pasaran, membuat sejumlah perajin di Desa Besan, Kecamatan Dawan berhenti berproduksi. Sebagian perajin kini lebih memilih menjual bahan baku pembuat gula merah yakni tuak (nira) langsung ke konsumen karena dinilai lebih menguntungkan. Kenyataan tersebut diungkapkan salah seorang perajin gula merah di Banjar Kawan Desa Besan, Ni Luh Wirasmini, Jumat (31/3).

Wirasmini mengungkapkan, beredarnya gula merah oplosan belakangan ini cukup merugikan perajin gula merah dawan. Pasalnya harga gula merah oplosan yang bahannya didatangkan dari Jawa dan dicampur dengan tuak dawan, dijual di pasaran dengan harga lebih murah yakni Rp 18 ribu per kilogram. Meski saat ini menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, Wirasmini mengaku tidak ada tanda-tanda kenaikan harga gula merah Dawan.

“Sejak gula merah oplosan beredar, harga gula dawan anjlok. Kalau enam bulan lalu bisa dijual Rp 30 ribu sekarang hanya laku kisaran Rp 20-25 ribu per kilonya,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, secara kualitas rasa harga gula merah oplosan lebih rendah dibandingkan gula merah Dawan. Gula merah oplosan, kata Wirasmini memiliki rasa agak asin dan sedikit berbau amis. Dari segi tekstur, gula merah oplosan juga diakuinya lebih keras dibandingkan gula merah buatan perajin di Dawan.

Baca juga:  Serius Kelola SDM, Temu Wirasa di Dawan Digelar

Sebagai dampak anjloknya harga gula merah dawan, tak sedikit dari perajin gula di banjarnya yang kini mulai berhenti berproduksi. Beberapa perajin, kata Wirasmini, lebih memilih menjual tuak langsung ke konsumen daripada mengolahnya menjadi gula merah. Per liternya tuak bisa laku dijual dengan harga Rp 4 ribu.

Jika dibandingkan dengan memproduksi gula merah, penjualan tuak diakuinya lebih menguntungkan. “40 liter tuak kalau diolah biasanya hanya menjadi lima kilogram gula merah. Dengan harga gula merah sekarang dikisaran Rp 20 ribuan, lebih untung memang menjual tuak langsung,” jelasnya.

Kendati lebih menguntungkan, namun dirinya mengaku tidak mau ikut-ikutan menjual tuak. Wirasmini yang sudah menjadi perajin gula merah sejak tahun 80an akan tetap memproduksi gula merah. Untuk meningkatkan nilai jual drinya kini berupaya berinovasi mencetak gula merah menjadi semacam permen. Hanya saja, permen gula merah produksinya baru dipasarkan secara terbatas. (dayu rina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.