DENPASAR, BALIPOST.com – Pemimpin dalam konteks kekinian bukanlah yang melakukan sesuatu hanya menguntungkan dirinya sendiri. Tapi bagaimana ia mampu menciptakan harapan hidup bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Bukan yang merenggut kebahagiaan rakyatnya, tapi yang bisa menularkan kebahagiaan bagi sekelilingnya. “Oleh karena itu, pemimpin kedepannya adalah harus yang cerdas. Melalui pemimpin yang cerdas dan bahagia, yang pernah menikmati kebahagiaan, kita harapkan bisa menularkan kebahagiaan pada orang-orang yang dipimpinnya. Dia tidak boleh mengambil kebahagiaan dari masyarakat yang dipimpinnya, itu kebalik,” ujar Pendiri The Ary Suta Center, Dr. I Putu Gede Ary Suta dalam Pendidikan Kepemimpinan Nasional (Pakemnas) Ke-IX Peradah Indonesia di Denpasar, Jumat (10/3).

Ary Suta menambahkan, core kompetensi masing-masing harus dikembangkan untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan sendiri bisa dipelajari melalui kesuksesan orang lain, melalui kegagalan pemimpin tertentu, atau belajar dari mentor. “Jadi, mentoring itu penting. Oleh karena itu, kepemimpinan yang ada itu harus kepemimpinan yang betul-betul menyayangi yang dipimpin. Harus betul-betul merangkum kepentingan atau memperjuangkan kepentingan yang dipimpin,” jelas Mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional kala usianya baru 36 tahun itu.

Menurut Ary Suta, pemimpin harus bisa membuat visi dan misi serta strategi berdasarkan aspirasi yang berkembang di bawah. Selain itu, harus menularkan trik-trik atau strategi itu dan bisa memahami apa yang diinginkan rakyat. “Jadi kebahagiaan itu adalah hasil akhir,” pungkasnya.

Swadharma

Sementara itu, Pimpinan Kelompok Media Bali Post Satria Naradha memaparkan materi tentang “Kepemimpinan Hindu, Ajeg Bali dan Pers” dalam Pakemnas Peradah. Satria sendiri memilih jalan hidup sebagai wartawan meskipun orangtuanya dulu menginginkan agar dirinya menjadi dokter.

Baca juga:  Mudik Lebaran, Ini Jadwal Pembatasan Operasional Angkutan Barang

Sejak SMA mulai bergerak di bidang komunikasi dengan cara menulis, mengarang, dan membuat majalah sekolah. Sampai akhirnya mendirikan Bali TV pada 26 Mei 2002.

Ia juga mendirikan beberapa TV lokal di luar Bali. Diantaranya, Surabaya TV, Bandung TV, Jogja TV, Sriwijaya TV, serta Aceh TV. “Semua itu tujuannya adalah, bahwa kita ingin berperan melakukan swadharma tanpa harus berpartai, tanpa harus menjadi gubernur, tanpa harus menjadi menteri, tanpa harus menjadi bupati,” ujarnya.

Menurut Satria, Bali masih bertahan di tengah persoalan masa kini. Kendati, hasil analisa pers melihat Bali hanya tinggal satu generasi.

Ia menilai Pakemnas Peradah merupakan salah satu langkah strategis untuk menyelamatkan generasi Pulau Dewata. “Generasi kita nantinya tidak hanya sekedar sebagai penonton, tidak hanya sekedar bangga bekerja di kapal pesiar ke luar. Belum lagi kita lihat persaingan ekonomi yang bukan saja kita kalah di Bali, tapi juga kalah dimana-mana. Orang Bali sebetulnya hebat tapi sedang krisis,” jelasnya.

Ketua Peradah Indonesia, D. Sures Kumar mengatakan Pakemnas dilakukan untuk mendidik dan melatih kader-kader Peradah Indonesia. Sehingga pengetahuannya, baik tentang Peradah, Hindu, maupun wawasan-wawasan nasional bertambah lebih baik.

Pihaknya berharap dinamika sosial bisa direspon dengan cepat oleh anggota. “Oleh karena itu, ada materi analisa sosial untuk memetakan, kemudian membedah masalah-masalah sosial di masyarakat untuk dicarikan solusi. Kita juga menyiapkan kader-kader Peradah ini untuk next generasi, jadi mereka ini nantinya akan siap diberdayakan di posisi apapun dan dimanapun,” ujarnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.