Direktur Utama Telkomsel, Nugroho saat menjadi pembicara dalam Bali Tech Week yang berlangsung di Bali Beach Convention Center, Sanur, Denpasar, Senin (19/10). (BP/iah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Industri telekomunikasi terus mengalami transformasi yang pesat. Operator pun tak hanya berfokus pada penyediaan layanan konektivitas semata, melainkan melangkah lebih jauh guna mendorong pertumbuhan berkesinambungan serta meningkatkan produktivitas masyarakat Indonesia.

Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menyampaikan bahwa konektivitas saja kini tidak lagi cukup. Mengacu pada tren global di berbagai negara, pertumbuhan pendapatan dari konektivitas ritel konvensional terus mengalami penurunan.

Sebaliknya, potensi pertumbuhan baru justru datang dari sektor-sektor seperti Business-to-Business (B2B), Internet of Things (IoT), serta teknologi Artificial Intelligence (AI).

“Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terbesar keempat di dunia setelah India, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Dengan potensi pasar yang sangat besar ini, kita harus mampu menjaga kedaulatan digital bangsa dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Nugroho saat menjadi pembicara dalam Bali Tech Week yang berlangsung di Bali Beach Convention Center, Sanur, Denpasar, Senin (19/10).

Baca juga:  Puff of Smoke Remains Visible at Temesi Landfill

Guna mendukung kemandirian digital sekaligus mendorong produktivitas pengguna, ia mengungkapkan ada dua kelompok solusi utama yang disiapkan. Diungkapkan, saat ini pihaknya telah melayani lebih dari 40.000 pelanggan bisnis melalui berbagai solusi AI dan model komersial inovatif.

“Indonesia memiliki pasar yang sangat besar, dan kita tidak bisa hanya menjadi pasar. Kita perlu memiliki teknologi sendiri, kemampuan sendiri, yang didukung oleh talenta kita sendiri,” ujar Nugroho.

Ia menjelaskan pengembangan solusi digital terus diperluas untuk pelanggan individu atau business-to-consumer (B2C) maupun pelanggan perusahaan atau business-to-business (B2B).

Baca juga:  Beji Paluh Park Becomes A New Spiritual Tourist Destination

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Octa, sebuah platform AI yang dirancang untuk membuka akses lebih luas terhadap teknologi kecerdasan buatan. Platform ini menyediakan akses ke API AI, aplikasi, dan asisten pintar yang dapat dimanfaatkan pengembang, pelaku usaha, serta kreator untuk membangun solusi sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia.

Octa juga dilengkapi pendekatan pengelolaan berbagai model AI atau large language model (LLM). Selain Octa, ada Adelia, asisten AI yang dirancang agar lebih relevan dengan bahasa dan budaya Indonesia.

Solusi ini menggabungkan fungsi pencarian informasi, penjelajahan internet, dan percakapan berbasis AI untuk memudahkan pengguna menemukan informasi.

Dari sisi keamanan untuk membantu mendeteksi penipuan dan kecurangan digital, dikembangkan Syskamling, solusi keamanan digital berbasis AI.

Baca juga:  Two Earthquake Sensors to be Installed in Bangli

Nugroho menyebutkan pengembangan ini diharapkan dapat memperkuat perlindungan pengguna sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam beraktivitas di ruang digital.

Di bidang pendidikan, Sacred Octagon, sebuah solusi pembelajaran matematika berbasis permainan interaktif memanfaatkan AI dan metode GASING.

Program ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan profesor matematika Yohanes Surya untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi matematika generasi muda.

Nugroho mengatakan pengembangan berbagai solusi tersebut merupakan bagian dari komitmen mendukung agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam membangun kemandirian teknologi dan kedaulatan digital Indonesia.

Menurutnya, penguatan kedaulatan digital perlu dilakukan melalui pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, peningkatan kemampuan sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan berbagai mitra. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN