
SINGARAJA, BALIPOST.com – Berangkat dari pendidikan akuntansi, I Gede Hoga Wiratmaja justru menekuni dunia desain grafis secara autodidak. Berbekal pengalaman dan ketekunan mengasah kemampuan, pria asal Kalibukbuk, Buleleng, ini berhasil menjadi pemenang sayembara logo dan maskot Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali XVII 2027 yang akan digelar di Kabupaten Buleleng.
Bagi Hoga, kemenangan tersebut memiliki makna tersendiri. Setelah menggarap identitas visual sejumlah daerah, seperti Magelang, Garut, dan Badung, kesempatan ini menjadi momentum untuk berkontribusi bagi tanah kelahirannya.
Saat dihubungi, Minggu (18/10), Hoga mengaku bangga sekaligus tidak menyangka karyanya terpilih. Ia melihat sayembara tersebut bukan semata-mata ajang kompetisi desain, melainkan kesempatan untuk memperkenalkan identitas Buleleng melalui karya visual.
“Selama ini selalu mengerjakan city branding untuk daerah lain. Di Buleleng ini belum tersentuh. Visual saya belum hadir di tanah kelahiran,” ujarnya.
Pria kelahiran 4 Maret 1991 ini menuturkan, ketertarikannya mengikuti sayembara berangkat dari keinginan untuk memberikan kontribusi sesuai bidang yang dikuasainya. Ia pun mengikuti kompetisi tersebut tanpa terlalu memikirkan siapa saja pesaingnya.
Baginya, yang terpenting adalah menghasilkan karya yang mampu merepresentasikan karakter olahraga sekaligus identitas Buleleng. Dalam merancang logo Porprov Bali XVII 2027, Hoga mengawali proses kreatif dengan melakukan riset selama empat hari. Ia menggali berbagai unsur visual yang dapat dikembangkan untuk menggambarkan karakter Buleleng.
Dari proses tersebut, muncul gagasan memadukan tiga elemen utama, yakni Singa Ambara Raja, Wayang Wong Tejakula, dan kobaran api obor.
Singa Ambara Raja merepresentasikan identitas Kabupaten Buleleng. Wayang Wong Tejakula menjadi simbol akar budaya, budi luhur, dan nilai kejujuran. Sementara api obor melambangkan semangat juang, keberanian, dan sportivitas.
Menurut Hoga, tantangan terbesar dalam proses perancangan adalah menyatukan unsur olahraga dan budaya agar menjadi satu kesatuan visual yang harmonis.
Setelah konsep ditemukan, ia menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk mengembangkan sketsa dan menyempurnakan bentuk logo.
“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana menyatukan sportivitas dengan budaya. Setelah sekitar seminggu melakukan sketching, akhirnya saya menemukan bentuk yang bisa mewakili kedua elemen tersebut,” katanya.
Pemilihan Wayang Wong Tejakula menjadi salah satu aspek yang menonjol dalam konsep tersebut. Hoga menilai, kekayaan budaya Buleleng tidak hanya terbatas pada ikon yang telah dikenal masyarakat, tetapi juga mencakup warisan budaya yang perlu terus diperkenalkan.
Ia sengaja mengangkat Wayang Wong Tejakula karena ingin mendorong masyarakat mengenal lebih jauh kesenian khas Buleleng tersebut, termasuk pengakuan UNESCO terhadap tradisi budaya ini.
“Masih banyak orang yang belum tahu kalau Buleleng punya Wayang Wong. Saya ingin memperkenalkannya lagi kepada masyarakat,” ungkapnya.
Menurut dia, Porprov menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat pengenalan budaya daerah. Dengan demikian, ajang olahraga tidak hanya menjadi ruang kompetisi dan pencapaian prestasi, tetapi juga sarana memperkenalkan identitas budaya Bali.
Selain logo, Hoga merancang maskot bernama WIRAMBA yang terinspirasi dari Singa Ambara Raja. Karakter tersebut dikembangkan dengan tampilan energik, sportif, dan bersahabat agar dekat dengan atlet maupun masyarakat.
Nama WIRAMBA merupakan gabungan kata “Wira” yang berarti kesatria dan “Ambara” yang berarti langit yang luas. Nama ini mengandung filosofi keberanian dan keteguhan untuk melampaui batas dalam mencapai tujuan.
Ciri khas maskot tersebut adalah kobaran api berbentuk obor yang ditempatkan di bagian kepala. Elemen ini menggambarkan semangat olahraga, keberanian, kejujuran, dan sportivitas.
Penempatan obor di bagian kepala juga memiliki makna filosofis. Kepala dipilih sebagai simbol kedudukan tertinggi, yang mencerminkan bahwa sportivitas harus dijunjung tinggi dalam setiap pertandingan.
“Obor di kepala merupakan representasi sportivitas, kejujuran, dan semangat. Filosofinya adalah menjunjung tinggi sportivitas,” jelasnya.
Melalui maskot WIRAMBA, Hoga ingin menyampaikan bahwa perjuangan meraih prestasi harus dilandasi keberanian, ketekunan, dan keyakinan, tanpa mengabaikan nilai-nilai luhur.
Di balik karyanya, Hoga memiliki perjalanan yang tidak lepas dari proses belajar mandiri. Meski berlatar belakang pendidikan akuntansi, ia terus mengembangkan kemampuan desain grafis melalui pengalaman dan partisipasi dalam berbagai kompetisi.
Ia juga pernah meraih juara III dalam sayembara logo Pusat Kebudayaan Bali. Pengalaman mengerjakan city branding untuk sejumlah daerah turut memperkaya pendekatannya dalam menggali karakter lokal sebagai dasar perancangan identitas visual.
“Saya berharap logo serta maskot Porprov Bali XVII 2027 tidak hanya menjadi identitas penyelenggaraan, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga budaya, menjunjung sportivitas, dan membangun kebanggaan terhadap Buleleng,” katanya. (Yudha/balipost)










