
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (14/10) bergerak melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.903 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.900 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah yang datar seiring antisipasi investor atas data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS malam ini.
“Rupiah hari ini yang datar-datar saja dipengaruhi oleh global antisipasi data inflasi CPI AS nanti malam (Rabu, 14/10), dan sikap dovish dari pejabat The Fed terkait kenaikan suku bunga tahun depan,” katanya dikutip dari Kantor Berita Antara.
Inflasi AS diperkirakan akan meningkat akibat naiknya biaya energi. Hal ini memberikan gambaran mengenai potensi arah kebijakan moneter Federal Reserve ke depannya. Estimasi pasar uang menunjukkan adanya kemungkinan sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga bulan ini.
Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams menyatakan pandangannya bahwa bank sentral sebaiknya menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini, namun tidak memerlukan kenaikan lebih lanjut setelahnya, karena ia memperkirakan inflasi akan turun secara signifikan tahun depan.
Melihat sentimen domestik, obligasi pemerintah Indonesia bertenor pendek yang menguat membuat rupiah relatif stabil. Kendati begitu, obligasi tenor panjang terutama yang menjadi benchmark 10 tahun, disebut masih dalam yield yang naik dan memberi tekanan terhadap rupiah.
“Yield obligasi tenor pendek 2 tahun terpangkas 8,4 bps (basis points) jadi 6,7 persen tenor 3 tahun 5,7 bps jadi 6,86 persen, dan 1 tahun 3,2 bps ke 6,65 persen. Tenor panjang 10 tahun naik 0,4 bps ke 7,19 persen, 40 tahun naik 4,9 bps ke 7,26 persen,” kata Rully.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat ke level Rp17.898 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.930 per dolar AS. (kmb/balipost)










