
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (12/10), bergerak melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.913 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.899 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) terkait peluang kenaikan suku bunga.
“Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” ucapnya dikutip dari Kantor Berita Antara.
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem telah mengungkapkan kebutuhan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut guna mengembalikan inflasi ke tingkat target 2 persen bank sentral.
Begitu pula dengan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mengindikasikan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk menurunkan inflasi lebih cepat jika data ekonomi secara umum tetap sesuai dengan perkiraan.
“Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed,” ujar Ibrahim.
Melihat sentimen geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow.
Trump juga mengumumkan bahwa Ukraina dan Rusia telah menyepakati gencatan senjata terkait energi. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut, sementara pihak Rusia tidak memberikan komentar.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.899 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.884 per dolar AS. (kmb/balipost)










