
SINGARAJA, BALIPOST.com – Batang bambu selama ini dikenal sebagai bahan bangunan dan perlengkapan rumah tangga. Namun, di tangan Gede Suarsa Ariawan, warga Banjar Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng, bambu diolah menjadi aneka kerajinan bernilai seni sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Melalui usaha Manasa Handycraft yang dirintis secara mandiri sejak 2019, Gede Suarsa menghasilkan berbagai produk berbahan bambu, mulai dari pulpen, tumbler, sedotan hingga asbak. Produk tersebut tidak hanya mengutamakan fungsi, tetapi juga memadukan sentuhan seni dan budaya Bali. “Awalnya saya membuat pulpen dari bahan bambu. Bahan bakunya juga tidak terlalu sulit dicari,” ujar Gede Suarsa Ariawan dihubungi Senin (12/10).
Dari sejumlah produk yang dihasilkan, pulpen bambu menjadi salah satu ciri khas Manasa Handycraft. Proses pembuatannya diawali dengan memilih bambu yang telah kering, kemudian memotongnya sesuai ukuran. Badan pulpen dibuat sepanjang sekitar 12 sentimeter, sedangkan bagian tutupnya sekitar 5 sentimeter.
Potongan bambu selanjutnya diamplas hingga halus sebelum dihias. Pada tahap ini, keterampilan perajin menjadi pembeda. Gambar bernuansa budaya Bali, termasuk tokoh pewayangan, dilukis langsung pada permukaan pulpen tanpa menggunakan mal. “Untuk menggambar wayangnya sekitar dua menit karena saya gambar langsung, tidak menggunakan mal,” jelasnya.
Dalam sehari, Suarsa mampu memproduksi sekitar 20 pulpen bambu. Produk tersebut dijual dengan harga mulai Rp25.000 per buah. Sementara itu, harga produk lainnya bervariasi, menyesuaikan desain dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Meski telah menghasilkan produk dengan nilai jual, pengembangan usaha ini masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan tenaga kerja menjadi salah satu hambatan yang membuat kapasitas produksi belum maksimal. Kondisi tersebut juga membatasi keikutsertaan Manasa Handycraft dalam berbagai pameran, terutama di tingkat kabupaten. “Usaha kami masih sulit mencari tenaga kerja. Jadi, untuk pameran di tingkat kabupaten juga masih jarang ikut karena produk kami terbatas,” ungkapnya.
Dari sisi pemasaran, Manasa Handycraft masih mengandalkan pesanan pembeli lokal melalui aplikasi WhatsApp. Namun, produk kerajinan bambu tersebut mulai menarik minat tamu dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Sinabun. Usaha ini kini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan. Pendapatan tersebut berpeluang meningkat apabila kapasitas produksi, ketersediaan tenaga kerja dan jangkauan pemasaran dapat diperluas.
Bagi Suarsa, bambu bukan sekadar bahan yang mudah ditemukan di lingkungan desa. Melalui kreativitas dan ketekunan, bahan baku lokal tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memperkenalkan seni dan budaya Bali kepada konsumen. Ia berharap usaha kerajinan bambu yang dikembangkan di Sinabun dapat terus tumbuh, membuka lapangan kerja dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, Perbekel Sinabun, Nyoman Sumanada menilai kerajinan bambu merupakan salah satu potensi ekonomi kreatif yang layak dikembangkan di desanya. Usaha tersebut dinilai sejalan dengan karakteristik masyarakat Sinabun yang sebagian besar bergerak di sektor pertanian dalam arti luas, termasuk perkebunan dan peternakan.
Menurutnya, ketersediaan bambu yang cukup melimpah di wilayah desa menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal. Bahan baku yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk kerajinan yang memberikan manfaat ekonomi.
“Harapannya, inovasi perajin ini bisa memberdayakan masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan membuat bahan baku yang tersedia di wilayah desa menjadi memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengembangan kerajinan bambu tidak hanya memberikan peluang bagi pengrajin, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang memiliki tanaman bambu untuk menjadi pemasok bahan baku. Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat dirasakan mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran.
Pemerintah desa berharap adanya dukungan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memperkuat pengembangan usaha tersebut. Dukungan yang dibutuhkan antara lain berupa bantuan peralatan yang lebih modern, pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas produksi serta perluasan akses pemasaran.
Produk kerajinan bambu asal Sinabun juga telah beberapa kali mendapat kesempatan tampil dalam pameran di tingkat kabupaten maupun provinsi. Keikutsertaan tersebut menjadi sarana promosi untuk memperkenalkan produk kreatif masyarakat sekaligus potensi Desa Sinabun dan Kabupaten Buleleng. “Harapan kami, pemerintah atau instansi terkait bisa membantu, terutama alat-alat yang lebih canggih sehingga proses pengerjaan kerajinan bisa lebih cepat,” harapnya. (Yudha/balipost)










