
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskerpus) menyiapkan ruang literasi terbuka di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung. Taman Literasi Wali Pustaka Sastra tersebut dibangun di belakang Gedung Layanan Perpustakaan Sastra Mangutama.
Diskerpus memilih lokasi tersebut karena berada di atas aset tanah milik daerah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kehadiran taman ini diharapkan mampu mendekatkan layanan literasi kepada masyarakat dengan suasana yang lebih santai dan terbuka.
“Kami ingin menghadirkan ruang literasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Membaca tidak harus selalu dilakukan di dalam gedung, tetapi bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan, santai, sekaligus membuka ruang untuk berinteraksi,” ujar Kepala Diskerpus Badung, Ida Ayu Yutri Indahgustari, Rabu (7/10).
Taman Literasi Wali Pustaka Sastra dirancang sebagai ruang publik terbuka hijau yang terintegrasi dengan teknologi. Konsep tersebut memungkinkan masyarakat membaca dan melakukan berbagai kegiatan sambil menikmati lingkungan yang hijau dan nyaman. “Taman ini juga dirancang agar dapat diakses oleh berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Prinsip aksesibilitas menjadi bagian dari konsep ruang publik agar fasilitas literasi dapat dimanfaatkan secara lebih inklusif,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Taman Literasi Wali Pustaka Sastra tidak menggantikan fungsi Gedung Layanan Perpustakaan Sastra Mangutama. Taman tersebut justru menjadi fasilitas pendukung yang memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menikmati layanan literasi. “Kehadirannya justru menjadi ruang alternatif yang melengkapi layanan perpustakaan konvensional,” imbuhnya.
Menurutnya, perpustakaan utama tetap menjadi tempat masyarakat memperoleh ilmu secara terstruktur. Sementara taman literasi diarahkan untuk menumbuhkan budaya membaca sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. “Literasi itu bukan hanya kebutuhan pelajar. Anak-anak, remaja, orang dewasa sampai lansia memiliki kebutuhan belajar sepanjang hayat. Karena itu, ruang yang kami bangun harus bisa digunakan bersama,” jelasnya.
Untuk mendukung aktivitas tersebut, Diskerpus menyiapkan ruang komunal sebagai tempat berinteraksi, berdiskusi, berbagi gagasan, hingga membangun komunitas. “Selain itu, terdapat ruang service atau layanan yang mendukung operasional taman, mulai dari pendaftaran, informasi, peminjaman dan pengembalian buku, pengelolaan koleksi hingga pengawasan fasilitas digital dan keamanan Kawasan,” pungkasnya.
Taman ini juga menyediakan ruang khusus bagi anak-anak dan remaja. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi tempat nyaman untuk membaca sekaligus melakukan kegiatan kreatif. “Fasilitas lainnya adalah Plaza B atau area panggung terbuka. Panggung ini dapat digunakan untuk storytelling, pentas seni, bedah buku hingga pemutaran film edukasi,” imbuhnya.
Area panggung akan mendapat dukungan pencahayaan dan akses listrik untuk menunjang kegiatan yang menggunakan perangkat tambahan. Pemanfaatan teknologi juga dapat dikolaborasikan dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Badung.
“Kami siapkan agar kegiatan literasi tidak berhenti pada membaca buku. Ada diskusi, seni, storytelling dan berbagai kegiatan kreatif yang bisa mempertemukan masyarakat dalam satu ruang,” ujarnya.
Kawasan taman juga dilengkapi ruang terbuka hijau dan bangku taman. Pengunjung nantinya dapat memilih tempat untuk membaca, belajar, berdiskusi, maupun sekadar menikmati suasana ruang terbuka.
“Pembangunan Taman Literasi Wali Pustaka Sastra ditargetkan rampung pada akhir 2026. Berdasarkan roadmap pembangunan, penyerahan bangunan dari kontraktor kepada Diskerpus Badung direncanakan pada 7 Desember 2026,” jelasnya.
Ia menegaskan taman tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat, bukan hanya pelajar. Konsep inklusif menjadi dasar pembangunan sehingga berbagai kelompok usia dapat memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Kami ingin taman ini menjadi ruang publik yang hidup. Siapa pun bisa datang, membaca, belajar, berdiskusi, berkegiatan atau menikmati suasana taman. Semakin banyak masyarakat yang merasa dekat dengan perpustakaan, semakin luas pula budaya literasi yang bisa tumbuh,” katanya. (Parwata/balipost)










