Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG Subs. F.E.R(K), M.Kes (tengah), Dr. dr. Tetty Yuniati, Sp.A Subs Neo(K), M.Kes, dan dr. I G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS (kanan) saat menjelaskan tentang penanganan bayi prematur. (BP/iah)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Angka kelahiran prematur di Indonesia masih tergolong tinggi dan relatif sulit ditekan. Hingga saat ini, sekitar 10 hingga 20 persen dari total kelahiran di Indonesia merupakan kelahiran prematur. Demikian diungkapkan Prof. dr. Tono Djuwantono, Sp.OG Subs. F.E.R(K), M.Kes, Dr. dr. Tetty Yuniati, Sp.A Subs Neo(K), M.Kes, dan dr. I G.A. Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS Minggu (4/10) di Kuta, Badung.

Menurut dr. Partiwi yang akrab disapa Tiwi, kondisi ini menjadi perhatian serius para pakar kesehatan, mengingat kelahiran prematur dan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) menjadi salah satu penyumbang utama angka kematian bayi serta risiko stunting di tanah air. Dokter spesialis anak ini mengatakan kolaborasi lintas disiplin dan edukasi masyarakat secara berkesinambungan sangat penting.

“Penanganan bayi prematur tidak berhenti saat bayi diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Bayi prematur dan BBLR merupakan kandidat utama mengalami stunting (tengkes) serta gangguan tumbuh kembang jika tidak dipantau secara ketat,” jelas dr. Tiwi.

Baca juga:  Jelang Tawur Kasanga, Krama Desa Adat Buleleng Laksanakan Tradisi Mapepada

Tiwi menambahkan untuk menyatukan persepsi antara dokter spesialis obgyn, dokter spesialis anak, bidan, dan masyarakat, mereka bertiga meluncurkan sebuah buku panduan edukasi terkait penanganan bayi prematur.

Melalui buku berjudul Bayi Prematur, Menjemput Harapan, masyarakat diajak untuk menyadari pentingnya persiapan pra-kehamilan (seperti menjaga berat badan ideal dan kesehatan fisik) serta mengenali tanda-tanda risiko kehamilan sejak dini. Edukasi ini diharapkan dapat menekan angka kelahiran prematur sekaligus meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

Sementara itu, Prof. Tono mengungkapkan bahwa belum bisa ditekannya angka kelahiran prematur dipengaruhi oleh faktor sistemik dan gaya hidup, seperti tingkat pendidikan, kondisi sosio-ekonomi, obesitas saat kehamilan, hingga kebiasaan merokok dan tingginya tekanan darah (hipertensi) pada ibu hamil.

Selain itu, persepsi masyarakat terkait program bayi tabung juga menjadi salah satu pemicu. Banyak calon orang tua yang menginginkan bayi kembar sekaligus. “Padahal, secara medis, kehamilan tunggal adalah kondisi paling ideal untuk menghasilkan bayi sehat. Kehamilan kembar justru meningkatkan risiko kelahiran prematur,” ungkap Guru Besar Obgin Universitas Padjajaran ini.

Baca juga:  Soal LKPJ 2025, DPRD Bali Soroti 'Paradoks' Kenaikan Prevalensi Stunting hingga Sampah

Kelahiran prematur membawa konsekuensi perawatan medis yang kompleks dan berbiaya tinggi. Menurut spesialis penanganan bayi baru lahir, Dr. Tetty, mayoritas bayi prematur mengalami gangguan pernapasan karena organ tubuhnya belum matang secara sempurna, sehingga membutuhkan alat bantu napas di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Penanganan pada periode emas (hari pertama kelahiran) menjadi kunci utama penentu keselamatan dan kualitas hidup bayi di masa depan. Kebutuhan alat bantu napas, infus, dan nutrisi khusus harus dipenuhi secara tepat pada 24 jam pertama.

Upaya ini mencakup pemberian kesempatan kepada ibu untuk memberikan kolostrum dan ASI sedini mungkin, sebuah proses yang dalam praktiknya kerap menghadapi berbagai tantangan selama bayi menjalani perawatan di NICU.
Dalam perawatan bayi prematur, pemberian ASI tetap dapat dilakukan meskipun bayi masih menjalani perawatan di NICU, sesuai dengan kondisi dan kesiapan medis bayi.

Baca juga:  PKB 2022 akan Diikuti 5 Daerah Luar Bali

Karena itu, dukungan terhadap ibu menyusui menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan tersebut. Ibu perlu mendapatkan dukungan yang memadai untuk mempertahankan produksi ASI selama bayi menjalani perawatan, termasuk dukungan nutrisi yang membantu memenuhi kebutuhan ibu selama masa menyusui.

Persiapan tersebut bahkan dapat dimulai sejak masa kehamilan. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu selama kehamilan dan menyusui menjadi salah satu bagian dari upaya mempersiapkan tubuh untuk masa laktasi dan mendukung produksi ASI setelah persalinan. “Bagi ibu yang bayinya harus menjalani perawatan di NICU, dukungan untuk mempertahankan produksi ASI menjadi semakin penting karena proses menyusui dapat berlangsung lebih panjang dan membutuhkan konsistensi, termasuk ketika ibu perlu memerah ASI untuk diberikan kepada bayinya,” paparnya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN