
DENPASAR, BALIPOST.com – Normalisasi sungai di Denpasar terus dilakukan untuk mengantisipasi banjir yang terjadi terutama pada musim hujan. Setelah dilakukan di beberapa sungai, kali ini menyasar Tukad Loloan Sanur dengan menurunkan 2 alat berat dan puluhan pekerja.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat meninjau pada Sabtu (3/10) mengatakan, pengerukan di Tukad Loloan sudah berlangsung sejak 1,5 bulan sebelumnya sebagai upaya untuk mengantisipasi banjir.
Selain Tukad Loloan, normalisasi juga sudah dilakukan di sungai-sungai lainnya. Di antaranya, Tukad Mati, Tukad Ayung dan Tukad Rangda. Termasuk sungai yang kecil-kecil seperi di Jalan Hayam Wuruk dan lainnya.
“Untuk Tukad Mati sebelumnya kita sudah turun bekerjasama dengan BWS dengan menurunkan dua alat berat. Kemudian pengerukan juga menyasar Tukad Ayung, Tukad Rangda dan hari ini Tukad Loloan,” katanya.
Di Tukad Loloan ini, kata Jaya Negara, pengerjaan berlangsung cukup lama. Hal tersebut dikarenakan sendimentasi sungai cukup tinggi. “Makanya pekerjaan ini sudah satu setengah bulan kita lakukan. Mudah-mudahan ini bisa mengantisipasi banjir,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa mengatakan, pengendalian banjir di Kota Denpasar dapat dilakukan dengan dua cara. Yakni pembangunan sistem drainase dan operasi pemeliharaan (OP) drainase.
Pembangunan sistem drainase, kata dia, di Denpasar tahun ini telah berjalan di 11 titik. Yakni, Jalan Kerta Raharja Sidakarya, Jalan Gunung Salak, Jalan Gunung Catur, Sekitar Pantai Duyung Kelurahan Sanur, sekitar SD 10 Sesetan, Jalan Tukad Batanghari, Jalan Pulau Adi Pedungan, Jalan Kebo Ireng Padangsambian Kaja, Gang Klampit Jalan Gunung Batur, Jalan Pura Demak III dan Jalan Suradipa.
Kemudian untuk OP drainase dalam hal ini termasuk pengerukan atau normalisasi sungai dilakukan di 40 titik di Kota Denpasar.
Sistem pengelolaan drainase di Kota Denpasa, kata dia, mengacu kepada 5 sistem. Di antaranya, sistem satu ada di Tukad Badung, dua di Tukad Ayung, tiga di Tukad Mati, empat ada di Renon, Panjer, Sanur, Sidakarya dan sekitarnya serta kelima ada Pemogan.
“Masing-masing sistem itu itu ada strategi tersendiri di dalam pengendalian pengelolaan untuk mengantisipasi banjir. Termasuk di sini di sistem 4, ada beberapa sungai-sungai dalam ukuran medium, tidak seperti besar seperti Ayung, Tukad Mati, maupun Tukad Badung, pengelolaannya seperti ini, kita lakukan OP,” katanya.
Cipta mengatakan, berdasarkan teori ada 5 penyebab banjir, yakni letak geografis sepertinya halnya di Bumi Ayu yang letak kawasan cekungan. Kemudian sampah sungai, sidementasi, penyempitan sungai akibat makin habisnya sempadan sungai untuk pembangunan dan penyebab terakhir adalah karena alam.
Dari kelima penyebab banjir itu, Cipta mengatakan, sampah menjadi penyebab tertinggi atau paling sering terjadinya banjir. Untuk itu perlu juga kesadaran bersama menjaga kebersihan sungai agar bisa terhindar dari banjir.
Terkait pengerukan di Tukad Loloan, dia mengatakan, sidementasi cukup tinggi dan beberapa titik sudah menjadi daratan. Dengan itu pengerukan berlangsung cukup lama.
Pengerukan sudah sepanjang 1 kilometer. Tukad Loloas ini, kata dia, menjadi muara sungai-sungai kecil di sekitar Renon dan sekitarnya. Sehingga dengan pembersihan Tukad Loloan juga mengantisipasi banjir yang terjadi di kawasan Renon hingga Sanur. (Widiastuti/balipost)










