Warga mendorong sepeda motor melewati banjir yang menggenangi kawasan Kuta, Badung, Bali, Rabu (10/9/2025). Hujan yang mengguyur wilayah Bali sejak Selasa (9/9) mengakibatkan banjir di berbagai titik dengan ketinggian air yang bervariasi hingga mencapai 1,5 meter. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Arus informasi yang membludak ketika bencana terjadi menjadi tantangan tersendiri bagi petugas dalam menentukan langkah penanganan. Laporan dari masyarakat, media sosial, pemerintah kabupaten/kota, hingga tim lapangan dapat masuk secara bersamaan dengan tingkat urgensi yang berbeda.

Untuk memastikan informasi tersebut dapat diolah menjadi bahan pengambilan keputusan secara cepat dan akurat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mulai mengeksplorasi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya Agent AI.

Pengembangan pemanfaatan teknologi tersebut dilakukan melalui Pelatihan Agent AI Tahap II yang berlangsung selama empat hari.

Pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas personel BPBD, tetapi juga memetakan skenario pemanfaatan Agent AI yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan informasi kebencanaan di Bali.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, mengatakan teknologi tersebut diharapkan dapat meringankan beban kerja petugas operasional, terutama ketika terjadi peningkatan volume informasi saat kondisi darurat.

“Harapannya melalui lokakarya ini, Agent AI bisa membantu para petugas di bidang kebencanaan untuk lebih fokus pada operasi penanganan bencana, karena sistem informasi sudah dikelola dengan baik,” ujar Gede Teja, Kamis (1/10).

Baca juga:  BPBD Bali Catat 495 Kejadian Pada Januari 2026, Jenis Bencana Ini yang Mendominasi

Menurutnya, kebutuhan terhadap sistem pengelolaan informasi yang cepat semakin penting karena bencana hidrometeorologi dapat terjadi secara bersamaan di sejumlah wilayah Bali.

“Ketika cuaca ekstrem, kejadian bisa terjadi di enam sampai tujuh kabupaten sekaligus. Selama ini kita mengandalkan laporan dari kabupaten, sementara masyarakat sering kali sudah lebih dulu menyampaikan informasi secara langsung. Kecepatan informasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang yang perlu dikelola dengan baik,” jelasnya.

Ia menegaskan, kecepatan harus berjalan beriringan dengan validitas informasi. Data yang masuk dari berbagai sumber perlu disaring dan dikelola sebelum digunakan sebagai dasar dalam penanganan bencana.

“Di tengah meningkatnya frekuensi kejadian hidrometeorologi dan kompleksitas risiko bencana, kemampuan mengelola informasi secara cepat dan akurat menjadi salah satu faktor kunci dalam mendukung keselamatan masyarakat,” tambah Gede Teja.

Dalam pelatihan tersebut, pemanfaatan Agent AI diarahkan pada tiga domain utama pengelolaan informasi kebencanaan di Bali. Pertama, komunikasi risiko hidrometeorologi. Teknologi AI dieksplorasi untuk membantu mengolah data prakiraan cuaca dan peta risiko sehingga informasi peringatan dini dapat disusun dalam bahasa yang lebih sederhana, jelas, dan cepat disampaikan kepada masyarakat.

Baca juga:  Bencana Hidrometeorologi Landa Karangasem, Dua Desa Terdampak Banjir

Kedua, Sistem Peringatan Dini Tsunami Bali (BTEWS). Agent AI dikaji untuk mendukung proses distribusi informasi terkait potensi bahaya tsunami secara lebih sistematis dan efisien.

Ketiga, pelaporan situasi bencana. Dalam aspek ini, Agent AI berpotensi digunakan untuk menyaring, mengelompokkan, serta merangkum laporan yang berasal dari berbagai kanal. Dengan demikian, petugas dapat memperoleh gambaran situasi secara lebih cepat ketika sejumlah kejadian berlangsung dalam waktu bersamaan.

Eksplorasi teknologi tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat kapasitas staf Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Bali. Peserta pelatihan tidak hanya diperkenalkan dengan mekanisme kerja Agent AI, tetapi juga diajak mengidentifikasi kebutuhan dan kendala teknis yang dihadapi dalam pengelolaan informasi kebencanaan di lapangan.

Direktur AI sekaligus Advisor BINAR Academy, Nur Rahmah, mengatakan pemanfaatan Agent AI dapat dilakukan pada berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari sebelum hingga setelah bencana.

Baca juga:  BPBD Bali Raih 3 Penghargaan di Peringatan Bulan PRB 2023

“Pemanfaatan Agent AI dapat dimulai sebelum bencana terjadi, misalnya untuk mengolah informasi risiko dan peringatan dini. Saat bencana, teknologi ini dapat membantu mempercepat distribusi informasi dan mendukung pengambilan keputusan. Sementara pada tahap pascabencana, Agent AI berpotensi membantu pemantauan dampak dan kerusakan,” ujarnya.

Meski demikian, teknologi tersebut tidak dirancang untuk menggantikan peran manusia ataupun mengambil alih kewenangan dalam pengambilan keputusan teknis. Agent AI ditempatkan sebagai instrumen pendukung untuk membantu menganalisis data, merangkum laporan, dan menyajikan informasi maupun rekomendasi secara cepat kepada petugas.

Provincial Manager Program SIAP SIAGA Bali, Ikhyaul Ihsan, mengatakan pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat tata kelola data dan sistem peringatan dini sebagai bagian penting dalam membangun ketangguhan daerah menghadapi bencana.

“Upaya ini merupakan bagian dari langkah proaktif BPBD Provinsi Bali dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi yang valid dan mudah diakses, sehingga respons kebencanaan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat,” kata Ikhyaul. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN