
BANGLI, BALIPOST.com – Masyarakat Desa Bonyoh, Kintamani, dilanda krisis air bersih sebagai dampak musim kemarau. Di tengah situasi tersebut, masyarakat setempat berbondong-bondong membawa jeriken dan ember ke depan kantor desa setempat untuk mengambil bantuan air bersih dari TNI, Selasa (29/9).
Perbekel Desa Bonyoh, I Ketut Putra Indrawan mengatakan bahwa bantuan sebanyak 20.000 liter air bersih yang disalurkan jajaran Kodim 1626/Bangli dan Korem tersebut sangat membantu warganya di tengah kekeringan yang melanda. Bantuan air bersih dibawakan menggunakan empat armada truk tangki, di mana sebagian langsung dibagikan kepada warga dan sisanya ditampung di bak penampungan umum desa.
“Warga kami antusias mengambil bantuan air karena memang keadaan di desa kami sedang kesulitan air bersih. Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan TNI,” ungkapnya.
Bantuan 20 ribu liter air tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan selama dua hari untuk kebutuhan konsumsi mendasar masyarakat. Lebih lanjut, Putra Indrawan membeberkan bahwa krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau menjadi beban ekonomi yang berat bagi warga Bonyoh.
Untuk kebutuhan konsumsi dan rumah tangga sehari-hari, warga bisa menghabiskan biaya sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu per bulan untuk membeli dua truk air tangki secara mandiri. Beban tersebut tentunya bertambah bagi warga yang punya lahan pertanian.
Untuk pengairan kebun, seorang petani bisa mengonsumsi hingga 7 truk air (sekitar 35.000 liter) dalam sebulan. Dengan harga Rp230.000 per truk, biaya operasional air pengairan menyentuh angka lebih dari Rp1,4 juta per bulan. “Dari segi ekonomi, petani jelas mengalami kerugian besar karena hasil panen habis hanya untuk membeli air,” ujarnya.
Diungkapkan Putra Indrawan, Pemerintah Desa Bonyoh sebenarnya pernah dua kali berupaya membuat sumur bor secara mandiri untuk pemenuhan air bersih masyarakat. Namun, upaya tersebut menemui kegagalan akibat terkendala lapisan batuan tebal serta debit air yang minim. Upaya pengeboran mandiri lanjutan kini makin sulit direalisasikan akibat keterbatasan keuangan desa.
Ia menyebutkan bahwa di desanya sebenarnya terdapat sumber air alami, namun debitnya sangat kecil sehingga tidak memadai. “Makanya yang lebih memungkinkan dengan skala desa itu adalah sumur bor,” tegasnya.
Terkait kondisi tersebut, Pemerintah Desa Bonyoh sangat berharap adanya perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah daerah untuk memberikan solusi jangka panjang berupa pembuatan sumur bor. Putra Indrawan menambahkan, pihak desa sebelumnya telah mengusulkan bantuan sumur bor kepada TNI agar krisis air tahunan di Desa Bonyoh dapat terselesaikan secara permanen. (Dayu Swasrina/balipost)










