
BANGLI, BALIPOST.com – Fasilitas pejalan kaki (pedestrian) di jalur Penelokan, Kintamani, yang ditata Pemerintah Kabupaten Bangli pada 2022 dengan anggaran lebih dari Rp 9 miliar, terkesan tak tahan lama. Baru beberapa tahun berlalu, permukaan trotoar di kawasan wisata tersebut kini sudah banyak yang rusak.
Berdasarkan pantauan di lapangan, permukaan trotoar yang menjadi akses pejalan kaki tampak hancur, terkelupas, dan pecah-pecah di sejumlah titik. Kerusakan tersebut dominan terlihat pada area pedestrian yang menjadi jalur akses keluar-masuk kendaraan menuju restoran dan coffee shop.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRperkim) Kabupaten Bangli, Dewa Agung Suryadarma, mengatakan bahwa penataan pedestrian tersebut dilakukan pada 2022 dengan anggaran sekitar Rp 9,8 miliar.
Menurutnya, kerusakan fasilitas umum tersebut kemungkinan besar dipicu oleh penggunaan yang tidak sesuai dengan fungsinya. Jalur pedestrian yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki, kerap dilintasi oleh kendaraan bermotor. “Pedestrian kan untuk pejalan kaki. Kalau jadi akses keluar-masuk mobil, kan bukan peruntukannya,” ujar Dewa Agung Suryadarma.
Ia juga menegaskan bahwa pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Bangli tidak mengalokasikan anggaran perbaikan untuk menangani kerusakan fasilitas pedestrian di kawasan Penelokan tersebut. (Dayu Swasrina/balipost)










