
SINGASANA, BALIPOST.com – Upaya menghidupkan kembali alat musik tradisional Mandolin atau Nolin Pujungan berbuah capaian di tingkat nasional. Grup musik Neo Nolin Pujungan asal Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, berhasil masuk nominasi AMI Awards 2026 kategori Musik Etno melalui karya instrumental berjudul Bali, yang menjadi bagian dari album mereka yang dirilis pada 2025.
Masuknya Neo Nolin dalam nominasi tersebut menjadi catatan penting bagi perjalanan alat musik yang sempat mengalami masa mati suri. Tidak hanya mempertahankan bentuk dan karakter tradisinya, kelompok ini juga mengembangkan Mandolin Pujungan agar dapat berkolaborasi dengan berbagai instrumen musik lainnya.
Founder Neo Nolin sekaligus komposer, I Nyoman Resa Angga Nurbawa (30), mengatakan karya Bali berdurasi sekitar enam hingga tujuh menit. Karya tersebut mengolah karakter musik tradisi dengan pendekatan komposisi kekinian. “Konsepnya bagaimana medium musikal tradisi diolah secara kekinian sehingga memiliki napas yang lebih segar, dan yang kami daftarkan judulnya Bali instrumental,” ujar Resa, Senin (28/9).
Karya tersebut kemudian didaftarkan dalam AMI Awards 2026. Resa menyebut kategori Musik Etno merupakan kategori baru dalam ajang penghargaan tersebut. Dari karya yang didaftarkan, Bali akhirnya masuk dalam lima nominasi kategori Musik Etno.
Perjalanan Resa menghidupkan kembali Mandolin Pujungan bermula dari sebuah tantangan ketika menempuh pendidikan di ISI Bali. Saat mempersiapkan ujian akhir, seorang dosennya menyampaikan bahwa di Desa Pujungan terdapat alat musik tradisional yang telah lama tidak dimainkan.
Rasa penasaran membuat Resa mencari informasi kepada ayahnya. Dari penelusuran tersebut diketahui Mandolin merupakan alat musik yang pernah dimainkan oleh kakeknya.
Sejak akhir 2017 hingga 2018, Resa mulai merekonstruksi Mandolin Pujungan. Ia meminjam salah satu instrumen dari pengrajin generasi kedua, kemudian mempelajari konstruksi dan sistem instrumentasinya.
Pengembangan selanjutnya dilakukan pada sistem nada. Mandolin Pujungan yang sebelumnya menggunakan karakter nada pelog tujuh nada dan diatonis dikembangkan menjadi 12 nada dengan jarak setengah nada. Jangkauan nadanya juga diperluas hingga tiga oktaf.
Pengembangan tersebut dilakukan agar Mandolin lebih mudah dimainkan bersama instrumen musik Barat yang memiliki frekuensi nada lebih terukur. Namun, karakter dasar instrumen tradisional tetap dipertahankan.
Dalam proses kreatif Neo Nolin, karakter Mandolin Pujungan juga dipadukan dengan berbagai pendekatan musikal. Salah satunya melalui interpretasi musikal dari gamelan jegog yang kemudian dituangkan ke dalam karya Bali.
Mandolin Pujungan diperkirakan telah berkembang sejak sekitar 1930-an. Alat musik tersebut kemudian mengalami masa surut setelah gejolak sosial-politik pada era 1960-an. Mandolin tidak lagi banyak dimainkan dan sejumlah instrumen bahkan disebut sempat dibakar.
Upaya menghidupkannya kembali mulai muncul pada 1990-an dan dilanjutkan dengan berbagai riset pada 2000-an. Tantangan terbesar saat itu adalah regenerasi karena minat generasi muda terhadap musik tradisional masih terbatas.
Kondisi tersebut turut mendorong Resa membentuk Neo Nolin Pujungan. Awalnya berangkat dari kebutuhan studi, kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi ruang kreatif untuk melahirkan karya baru berbasis Mandolin Pujungan.
Sejak menyelesaikan pendidikan pada akhir 2020, Neo Nolin mulai tampil dalam berbagai festival di Bali dan tingkat nasional. Kelompok ini juga mendapat kesempatan tampil di luar negeri dan pada 2025 tampil dalam salah satu festival di Jepang.
Kini Neo Nolin beranggotakan delapan orang. Regenerasi mulai dibangun melalui kelompok senior dan junior. Kelompok junior diisi anak-anak sekolah yang diperkenalkan dengan Mandolin Pujungan.
Bagi Resa, masuknya Bali dalam nominasi AMI Awards 2026 bukan sekadar pencapaian kelompok. Momentum tersebut menjadi dorongan untuk memperkenalkan Mandolin Pujungan kepada generasi berikutnya.
“Paling tidak dengan capaian ini, generasi muda lainnya akan terpacu mempelajari musik tradisi. Saat ini kami konsisten dalam promosi dan pengembangan, tentunya tanggung jawabnya lebih besar,” pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)










