
SINGARAJA, BALIPOST.com – Kelapa pandan wangi mulai dikembangkan di sejumlah wilayah di Bali. Memiliki aroma pandan alami, rasa manis hingga 15 derajat Brix, serta tergolong kelapa genjah yang cepat berbuah, varietas ini mulai menarik minat pasar. Kawasan pariwisata pun dibidik sebagai salah satu pasar potensial.
Salah satu pengembang kelapa pandan wangi di Bali, Gede Sukra Suarnaya yang dikonfirmasi, Senin (28/9), mengatakan, pengembangan varietas ini pertama kali dilakukan di Buleleng pada 2021. Kini, penanamannya mulai meluas hingga ke Kabupaten Jembrana.
Menurut Sukra, kelapa pandan wangi memiliki keunikan pada aroma air buahnya yang menyerupai pandan. Aroma tersebut muncul secara alami tanpa tambahan bahan atau perasa. Tingkat kemanisannya berkisar antara 7 hingga 15 derajat Brix.
Selain keunikan rasa dan aroma, kelapa ini memiliki karakter tanaman yang relatif pendek sehingga memudahkan perawatan dan pemanenan. Sebagai jenis kelapa genjah, tanaman tersebut juga tergolong cepat memasuki masa produktif.
“Dengan pemeliharaan intensif, kelapa pandan wangi mulai belajar berbunga saat berumur sekitar dua tahun. Sementara itu, buahnya dapat mulai dipanen ketika tanaman berusia 2,5 hingga tiga tahun,” jelasnya.
Sukra menambahkan, pengembangan kelapa pandan wangi di Bali masih tergolong baru. Bibit yang dikembangkannya didatangkan melalui Medan, sedangkan varietas tersebut berasal dari Thailand. Di Indonesia, pengembangannya mulai dikenal dalam sekitar lima tahun terakhir.
Saat ini, pengembangan kebun kelapa pandan wangi yang dikelola Sukra telah mencapai sekitar 20 hektare di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan. Penanaman juga dilakukan di wilayah Gerokgak. Tanaman ini memiliki masa produktif yang panjang, yakni mulai umur tiga tahun hingga sekitar 30 tahun.
“Buah kelapa pandan wangi saat ini dijual dengan harga sekitar Rp25.000 per butir. Sementara itu, bibitnya dibanderol Rp200.000 per batang. Namun, penjualan bibit dalam jumlah besar belum dilakukan karena masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan kebun sendiri,” imbuhnya.
Sukra menargetkan penjualan bibit secara lebih luas dapat dimulai tahun depan seiring dengan peningkatan produksi. Sementara, untuk pemasaran buah, distribusinya masih terbatas dan ke depan akan diarahkan ke kawasan pariwisata.
Ia berharap kelapa pandan wangi semakin dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Bali. Selain menghasilkan buah yang memiliki nilai jual, tanaman ini juga berpotensi memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan niranya sebagai bahan baku gula kelapa dan kecap.
Minat terhadap kelapa pandan wangi juga mulai datang dari luar Bali. Sukra menyebut varietas ini telah menarik perhatian sejumlah negara di Asia. Pada 5 Oktober mendatang, pihaknya dijadwalkan menerima kunjungan tamu dari beberapa negara penghasil kelapa yang ingin melihat langsung pengembangannya.
“Tingginya minat terhadap kelapa pandan wangi, lanjut Sukra, tidak terlepas dari karakter buahnya yang memiliki aroma khas dan rasa manis alami. Selain itu, sebagian masyarakat juga meyakini air kelapa ini dapat membantu menyegarkan tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh,” pungkasnya. (Yudha/balipost)




