UBS Unhi Denpasar ke-11 Tahun 2026 resmi dibuka Menbud Fadli Zon ditandai dengan pemukulan Kulkul, di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira, Kampus Unhi Denpasar, Kamis (24/9) malam. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Setelah vakum selama enam tahun, Utsawa Bali Sani (UBS) kembali digelar Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar. UBS ke-11 Tahun 2026 resmi dibuka Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon di Jaba Sisi Pura Maha Widya Mandira, Kampus Unhi Denpasar, Kamis (24/9) malam.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Menbud Fadli Zon. Acara dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, yang mewakili Gubernur Bali, Wayan Koster.

Pembukaan UBS 2026 juga diisi penampilan karya Adi Gurnita “Padma Hredaya”, atraksi seni pencak silat Bali dari PSPS Bakti Negara, serta pameran lukisan karya perupa Unhi dan pameran lontar koleksi Unhi. Pameran tersebut ditinjau langsung Menbud Fadli Zon di Gedung Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya Unhi.

Fadli Zon mengatakan, kehadirannya dalam UBS 2026 menjadi kali pertama sebagai Menteri Kebudayaan. Ia menyambut positif kembali digelarnya UBS setelah sempat terhenti selama enam tahun.

“Utsawa Bali Sani ini menjadi ruang perjumpaan yang menumbuhkan kesadaran bahwa kebudayaan merupakan bagian yang hidup dalam keseharian kita,” ujar Fadli Zon.

Menurutnya, tema UBS 2026 memiliki pesan penting mengenai keterkaitan pengembangan ilmu pengetahuan dan seni. Keduanya, dikatakan, tidak dapat dipisahkan sebagai bagian dari kebudayaan yang telah tumbuh di Nusantara.

Baca juga:  Tarif Royalti Musik Terjangkau

Fadli Zon juga menyampaikan peluang dukungan Kementerian Kebudayaan melalui program pendanaan bagi individu, seniman, budayawan, dan komunitas. Ia menyebut anggaran fasilitasi kebudayaan yang tersedia pada 2026 mencapai sekitar Rp500 miliar.

“Ke depan saya kira kita bisa ada atensi khusus, terutama kalau menyangkut bidang-bidang yang kurang tersentuh. Misalnya pengobatan tradisional, ayurveda, dan juga yang lain-lain,” katanya.

Ia berharap UBS terus dilaksanakan dan berkembang sebagai ruang apresiasi, dialog, penciptaan karya, sekaligus bagian dari upaya pemajuan kebudayaan Indonesia, khususnya Bali.

Sementara itu, Rektor Unhi Denpasar Dr. Cokorda Gde Bayu Putra mengatakan, kembalinya UBS memiliki arti penting bagi perjalanan Unhi yang akan memasuki usia ke-63 tahun pada 3 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, sejarah Unhi tidak terlepas dari gagasan para cendekiawan Hindu untuk membangun lembaga pendidikan tinggi Hindu. Gagasan tersebut antara lain tercermin dalam Piagam Campuhan yang lahir dari pertemuan Dharma Asrama di Campuhan, Ubud, pada 1961.

Baca juga:  Jaga Keutuhan NKRI, Indonesia Cari Dukungan Negara Pasifik

Komitmen tersebut kemudian diwujudkan dengan berdirinya Mahawidya Bhawana Institut Hindu Dharma (IHD) pada 3 Oktober 1963. Lembaga tersebut kemudian bertransformasi menjadi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) pada 1993.

Menurutnya, Unhi hingga kini tetap berpegang pada pola ilmiah pokok agama dan kebudayaan. Hal itu menjadi komitmen moral dan intelektual lembaga, sekaligus bagian dari upaya menjaga marwah Unhi sebagaimana cita-cita para pendirinya.

Dalam konteks pemajuan kebudayaan, lanjut Bayu, UBS menjadi salah satu wujud nyata komitmen tersebut. Festival ini pertama kali digelar pada 2010 atas gagasan Rektor Unhi saat itu, Prof. Yudha Triguna yang kini menjadi Ketua Senat sekaligus kurator UBS 2026.

“Semangat ngayah dalam berkesenian berpotensi hilang ketika aktivitas seni mulai diatur secara masif oleh hukum-hukum pasar. Karena itu muncul semangat untuk tetap mempertahankan budaya ngayah,” ujarnya.

Ia menambahkan, seni dalam konteks kebudayaan Bali tidak hanya berbicara mengenai keindahan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan rasio dan rasa. Bayu mengaitkan konsep tersebut dengan nilai Satyam, Siwam, Sundaram. Satyam dimaknai sebagai kebenaran, Siwam sebagai kesucian atau kebaikan, sedangkan Sundaram sebagai keindahan.

Baca juga:  KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, Manifes Sebut Angkut 53 Penumpang

“Melalui Festival Utsawa Bali Sani, kita tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga menjadikan kampus perguruan tinggi sebagai benteng kelestarian budaya, sekaligus laboratorium inovasi seni,” katanya.

Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Kol. Purn. Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menbud Fadli Zon yang membuka UBS 2026.

Menurutnya, kembalinya UBS setelah vakum enam tahun bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah festival seni, melainkan menjadi momentum menghidupkan ruang ekspresi spiritual, edukatif, dan kultural melalui seni.

“Pendidikan dan kebudayaan merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Pendidikan tanpa akar budaya akan kehilangan identitas, sedangkan budaya tanpa sentuhan pendidikan akan sulit beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia berharap sinergi Kementerian Kebudayaan, Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, dan Unhi dapat memperkuat generasi muda yang berkarakter, berbudaya, serta memiliki jati diri.

UBS akan berlangsung hingga 29 September 2026 dengan mengusung tema “Prabhā Niti Widyā Sani Prawartana”, yang dimaknai sebagai “Semangat Bersama Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Seni”.

Kembalinya UBS sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-63 Universitas Hindu Indonesia Denpasar. (kmb/balipost)

BAGIKAN