Aspirasi- Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata saat menyerap aspirasi warga terkait kebutuhan air bersih di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Rabu (23/9). Dari 12 dusun, saat ini ada tujuh desa tersebut belum terakses air bersih. (BP/Nan)

 

AMLAPURA, BALIPOST.com – Sejumlah wilayah di Kabupaten Karangasem, tepatnya di Kecamatan Bebandem hingga saat ini ada yang belum tersentuh atau terakses layanan air bersih. Dari 12 Dusun yang ada di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, setengahnya belum terakses layanan air bersih.

Perbekel Jungutan I Wayan Wastika, mengungkapkan, hingga saat ini daei 12 dusun yang ada, ada sebanyak enam dusun yang belum terakses layanan air bersih. Enam dusun tersebut, yakni di Dusun Nampo, Batu Ampin, Kubu Pangi, Pangleg, Yeh Kori, Untalan dan Galih.

“Kondisi geografis menjadi salah satu kendala pemenuhan air bersih. Tujuh dusun tersebut berada di kawasan perbukitan di bawah Gunung Agung. Di Jungutan ada 12 dusun. Baru lima dusun yang bisa terakses air bersih, sedangkan tujuh dusun di atas belum mendapat akses,” ujar Wastika.

Baca juga:  ADAKSI Berharap Presiden Prabowo Tersentuh Hatinya

Wastika mengatakan, lima dusun yang telah terakses air bersih mendapat pasokan dari Mata Air Telaga Tista. Sementara tujuh dusun di wilayah atas kini dijajaki untuk mendapatkan pasokan dari Mata Air Gua. “Hampir 3.000 penerima manfaat berada di tujuh dusun yang belum terakses tersebut,” katanya.

Menyikapi kondisi tersebut, Sementara itu, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata mengatakan, penyediaan air bersih menjadi kebutuhan yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.

Baca juga:  Jelang Tawur Agung di Desa Kemenuh, Ratusan Warga Ikuti Prosesi Mendak Pangrajeg

“Aspirasi warga dari tujuh dusun ini akan ditindaklanjuti bersama perangkat teknis, termasuk dengan mengkaji sumber air dan skema penyaluran yang memungkinkan,” katanya saat menerima aspirasi.

Dibagian lain, Kabid Cipta Karya Dinas PUPRPKim Karangasem I Ketut Prama Budarta mengatakan, penanganan saat ini masih dalam tahap survei sumber mata air. Mata Air Gua disebut telah mendapat izin dari pihak desa adat setempat untuk dimanfaatkan dan disalurkan bagi kebutuhan masyarakat. “Kita di PUPR akan segera merancang dan merencanakan ini. Di perubahan ini kita siapkan untuk penyusunan DED,” katanya.

Prama menjelaskan, jika posisi mata air gua berada lebih rendah dibandingkan kawasan permukiman yang hendak dilayani. Karena itu, diperlukan sistem pengangkatan dan jaringan distribusi untuk membawa air menuju wilayah yang lebih tinggi. Dalam rancangan awal, penyaluran air idealnya dilakukan melalui tiga tahap pengangkatan hingga mencapai Bukit Cemara.

Baca juga:  Atlet PON Rugby Belum Definitif

“Skemanya minimal dua tahap juga akan dikalkulasi sebagai alternatif. Di Bukit Cemara terdapat rencana pembangunan embung yang turut menjadi pertimbangan dalam penyusunan skema penanganan. Nanti kita buat beberapa skema. Yang penting warga dapat air, mau dari sumber mata air gua, dari embung, atau dari mana pun itu,” jelas Prama. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN