
DENPASAR, BALIPOST.com – Musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan dengan suhu relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal mulai meningkatkan potensi kebakaran di Bali. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sedikitnya 217 kejadian kebakaran sepanjang periode pemantauan. Kerugian akibat kebakaran gedung dan permukiman diperkirakan mencapai Rp2,63 miliar.
Berdasarkan data BPBD Bali periode 11 April hingga 6 September 2026, terdapat 173 kejadian kebakaran gedung dan permukiman yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali.
Rinciannya, Buleleng menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, yakni 47 kejadian. Berikutnya Denpasar 41 kejadian, Badung 24 kejadian, Karangasem 15 kejadian, Jembrana 12 kejadian, Klungkung 12 kejadian, Bangli 9 kejadian, Gianyar 8 kejadian, dan Tabanan 5 kejadian.
Dari 173 kejadian kebakaran gedung dan permukiman tersebut, BPBD Bali mencatat total estimasi kerusakan mencapai Rp2.631.550.000 atau sekitar Rp2,63 miliar.
Namun, ancaman kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan permukiman. Pada periode yang sama, BPBD Bali juga mencatat 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luas wilayah terdampak mencapai 196,68 hektare.
Kabupaten Buleleng tercatat sebagai wilayah dengan luas karhutla paling besar. Luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai 159,07 hektare.
Kebakaran hutan di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, juga cukup signifikan dengan luas sekitar 15 hektare.
Sementara di Karangasem, kebakaran tercatat melanda sekitar 6,63 hektare lahan pertanian dan lahan kosong di Kecamatan Kubu. Di Kecamatan Abang, kebakaran menghanguskan sekitar 2,10 hektare lahan kosong.
Di Jembrana, sekitar 8,05 hektare lahan kosong juga terdampak kebakaran.
Adapun di Kecamatan Kintamani, Bangli, kebakaran hutan tercatat mencapai sekitar 3,83 hektare. Sedangkan di wilayah Gunaksa, Klungkung, sekitar 2 hektare lahan kosong terbakar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran selama musim kemarau tidak hanya menyasar rumah atau bangunan, tetapi juga kawasan dengan vegetasi dan lahan kering yang mudah terbakar.
BPBD Bali juga mencatat kejadian kebakaran pada sejumlah fasilitas pengelolaan sampah. Di antaranya, TPST 3R Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, yang terdampak sekitar 10 are. Kebakaran juga terjadi di TPST 3R Tejakula, Buleleng, serta TPA Suwung di Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Sanggaran, Kecamatan Denpasar Selatan, yang terdampak sekitar 2 are.
Material sampah yang menumpuk dan mengering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Ketika tersulut, kondisi material yang kering dapat membuat api lebih mudah berkembang dan menyebar.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, mengatakan kondisi musim kemarau tahun ini perlu menjadi perhatian bersama.
Berdasarkan perkembangan cuaca dan informasi BMKG, kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan sejumlah kejadian bencana, terutama kekeringan serta kebakaran hutan, lahan maupun permukiman.
“Dari perspektif kebencanaan, kondisi tersebut berdampak pada peningkatan potensi beberapa kejadian, terutama kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta kebakaran permukiman,” ujar Gede Teja, Selasa (8/9).
Menghadapi kondisi tersebut, pihaknya mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan selama musim kemarau. Warga diminta melakukan perawatan jaringan listrik secara berkala. Penggunaan colokan maupun kabel yang menumpuk dan tidak memenuhi standar juga perlu dihindari karena berpotensi menjadi sumber pemicu kebakaran.
Selain itu, masyarakat diimbau tidak sembarangan membuat api, termasuk melakukan pembakaran terbuka di kawasan yang kondisi lahannya kering dan mudah terbakar.
BPBD Bali juga merekomendasikan penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di lingkungan permukiman maupun fasilitas publik sebagai langkah kesiapsiagaan. (Ketut Winata/balipost)










