Gubernur Bali, Wayan Koster. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster memberi tanggapan mengenai potongan video dirinya yang belakangan viral di media sosial dengan narasi “diam kamu”. Koster menyebut video tersebut merupakan potongan pernyataan yang diambil ketika dirinya sedang melakukan penertiban bangunan liar di kawasan Pantai Bingin, Badung tahun lalu.

Hal itu disampaikan Koster saat diwawancarai usai mengikuti Rapat Paripurna ke-48 DPRD Bali di Kantor DPRD Bali, Senin (7/9).

Koster menjelaskan, peristiwa dalam video tersebut terjadi ketika pemerintah sedang melakukan penertiban terhadap bangunan yang menempati tanah milik negara di Pantai Bingin. Saat itu, pemerintah menertibkan sejumlah bangunan, termasuk restoran dan bar, karena dinilai melanggar aturan.

Baca juga:  Satu Keluarga Asal Rusia Dideportasi

“Waktu saya sedang melakukan penertiban bangunan liar menempati tanah milik negara di Pantai Bingin. Waktu itu, kan saya lagi semangat-semangat,” ujar Koster.

Menurutnya, penertiban tersebut dilakukan dengan sikap tegas karena bangunan yang berdiri di kawasan tersebut dinilai tidak sesuai ketentuan.

“Pantai Bingin itu kan villa nggak boleh, harus dibongkar, bar juga, restoran juga. Kan harus dengan semangat tinggi, bongkar, karena melanggar aturan gitu,” jelasnya.

Baca juga:  Soal Aksi Nekat Terjun ke Laut dengan Motor, Ini Kata Kapolres

Koster kemudian mengungkap konteks munculnya ucapan “diam kamu” yang menjadi bagian dari video viral tersebut. Ia mengatakan, saat proses penertiban berlangsung, ada pembicaraan mengenai tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di restoran dan bar yang ditertibkan.

Dalam situasi tersebut, menurut Koster, dirinya meminta agar persoalan tenaga kerja tidak dibahas terlebih dahulu karena pemerintah tengah fokus menyelesaikan proses penertiban.

“Saya bilang, ‘diam kamu’. Orang kita lagi mikirin bongkar, mikirin tenaga kerjanya. Nanti ada waktunya mikirin tenaga kerjanya,” kata Koster.

Ia menilai potongan video yang kembali beredar di media sosial tidak menampilkan konteks pembicaraan secara utuh. Akibatnya, ucapan tersebut seolah-olah menunjukkan dirinya sedang menghardik seseorang.

Baca juga:  Tender Pasar Badung Tuntas, Pengerjaan akan Segera Dilakukan

“Nah, itu yang diputar lagi kemarin. Tapi konteksnya dibuat besar. Jadi seakan-akan saya ini, apa namanya itu? Apa dibilangnya? Menghardik ya? Dibilangnya menghardik,” ujarnya.

Meski demikian, Koster mengaku tidak mempermasalahkan persepsi publik terhadap potongan video tersebut. Ia memilih tetap bersabar dan membiarkan masyarakat memberikan penilaian.

“Ya, nggak apa-apalah. Biarkanlah orang menilai begitu. Saya tetap bersabar. Kan jadi makin keren karena diviralkan,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN