
SINGASANA, BALIPOST.com – Sepekan pascaledakan gas metan yang memicu kebakaran di TPA Mandung, Desa Sembung Gede, Kecamatan Kerambitan, asap masih tampak mengepul dari kawasan tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan sekitar 50 pegawai UPTD Pengolahan Sampah dan Tinja Kabupaten Tabanan yang setiap hari bekerja dan melakukan penanganan di lokasi.
Untuk memastikan kondisi kesehatan para petugas, UPTD Pengolahan Sampah dan Tinja Kabupaten Tabanan akan mengajukan permohonan pemeriksaan kesehatan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan. Selanjutnya, pemeriksaan akan dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kerambitan.
Kepala UPTD Pengolahan Sampah dan Tinja Kabupaten Tabanan, I Wayan Atmaja, Rabu (2/9), mengatakan, pemeriksaan kesehatan diperlukan karena petugas terus berada di kawasan TPA selama proses penanganan dan pendinginan berlangsung. “Permohonan untuk cek kesehatan bagi pegawai dan staf tentu akan kami sampaikan kepada pimpinan,” ujar Atmaja.
Menurutnya, sekitar 50 pegawai dan staf bertugas di UPTD tersebut. Selain menjalankan tugas masing-masing, petugas juga terlibat dalam proses pendinginan dan pengendalian titik-titik yang masih mengeluarkan asap maupun bara.
Untuk mengurangi risiko paparan, seluruh pegawai dan staf diimbau menggunakan masker selama berada di kawasan TPA. “Sementara ini kami imbau agar seluruh pegawai maupun staf diwajibkan memakai masker,” kata Atmaja.
Kepulan asap dari TPA Mandung juga dirasakan warga di sejumlah permukiman di sekitar lokasi. Beberapa wilayah yang terdampak di antaranya Desa Kukuh, Desa Samsam, khususnya Banjar Dinas Lumajang, serta Desa Sembung Gede, terutama Banjar Dinas Mandung.
Perbekel Desa Kukuh, I Nyoman Widi Adnyana mengatakan, wilayahnya cukup sering terdampak asap, terutama pada malam hari. Kepulan asap biasanya mulai terlihat sekitar pukul 20.00 hingga 21.00 WITA. “Asap biasanya turun ke wilayah desa kami pada pukul 8 sampai 9 malam. Kondisi ini sudah hal yang biasa ketika TPA Mandung kebakaran, Desa Kukuh yang paling sering terdampak,” ungkapnya.
Ia mengatakan, kepulan asap paling pekat dirasakan warga pada 27 Agustus lalu. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan warga yang meminta pemeriksaan kesehatan maupun perhatian khusus dari puskesmas akibat paparan asap. Masyarakat sejauh ini hanya diimbau menggunakan masker ketika kepulan asap mulai memasuki permukiman.
Sementara itu, Perbekel Desa Samsam, I Dewa Made Sukma Medya mengatakan, dari enam banjar dinas yang ada di wilayahnya, hanya Banjar Dinas Lumajang yang terdampak asap. “Asap mulai memasuki wilayah tersebut di saat sore,” jelasnya.
Kepala Wilayah Banjar Mandung, I Gusti Made Ari Widhiyana mengatakan, tingkat paparan asap di wilayahnya sangat bergantung pada arah angin. Kawasan perumahan di sebelah utara TPA menjadi lokasi yang paling sering terdampak.
“Untuk wilayah Mandung, kawasan yang paling sering terdampak kepulan asap adalah area perumahan. Meski begitu, hingga kini belum ada laporan dari warga mengenai gangguan kesehatan akibat asap,” ujarnya.
Pemantauan terhadap kondisi warga tetap dilakukan untuk mengantisipasi apabila kepulan asap semakin tebal dan membutuhkan penanganan. Di sisi lain, Kepala DLH Kabupaten Tabanan, I Made Surya Dharma mengatakan koordinasi dengan Puskesmas Kerambitan dan para perbekel desa yang terdampak asap akan segera dilakukan. Namun, penanganan di dalam kawasan TPA masih menjadi prioritas
“Tentu akan segera kami koordinasikan dengan Puskesmas Kerambitan dan komunikasi langsung bersama perbekel desa yang terdampak akan dilakukan. Tapi pendinginan dulu di lokasi dan penanganan,” jelasnya.
Menurut Surya Dharma, proses pendinginan dilakukan secara rutin pada pagi, siang, dan sore hari. Pengawasan terhadap area landfill juga dilakukan secara berkala untuk mencegah munculnya kembali titik api. “Rutin control landfill seminggu dua kali. Pagi, siang, sore pendinginan di areal yang terbakar. Itu sudah SOP rutin,” tegasnya.
Setiap hari, sebanyak 10 petugas dikerahkan untuk melakukan pendinginan terhadap titik-titik yang masih mengeluarkan asap maupun bara api. Petugas bekerja menggunakan sistem shift dengan melakukan penyemprotan pada area yang terbakar. “Kalau titik api membesar pasti kita koordinasikan ke polres Tabanan untuk kendaraan water canon serta damkar, namun saat ini masih bisa ditangani,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)










