Warga mengais puing sisa barang-barang mereka yang terbakar di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Bali menyiapkan pembentukan desa wisata tangguh bencana guna mengantisipasi berbagai potensi risiko bencana. Hal ini berkaca dari musibah kebakaran yang menimpa Desa Wisata Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

“Ini perlu menjadi pembelajaran, jangan hanya mampu mengembangkan, melainkan risiko kebencanaannya harus disiapkan dari pra-kebencanaan sampai pasca-kebencanaan,” kata Ketua Forkom Dewi Bali I Made Mendra Astawa di Denpasar, Rabu (26/8).

Mendra, dilansir dari Kantor Berita Antara, mengatakan keberadaan desa wisata di Bali yang saat ini berjumlah 245 desa didominasi oleh pemanfaatan potensi alam dan budaya yang melekat langsung di perkampungan serta rumah-rumah penduduk.

Karakteristik ini memiliki kemiripan dengan Desa Wisata Sade, salah satunya seperti Desa Wisata Penglipuran di Bangli yang berbasis kompleks perkampungan.

Baca juga:  Dinas Sosial Gelar Pelatihan Tata Rias Bagi Perempuan Rawan Sosial Ekonomi

Meski Penglipuran memiliki tata ruang yang lebih renggang antarpekarangan dan telah menerapkan standar keberlanjutan (sustainability), Forkom Dewi Bali melihat faktor keamanan, kenyamanan, serta kesiapsiagaan seluruh pelaku pariwisata tetap menjadi aspek vital untuk meminimalkan dampak jika terjadi musibah serupa.

Untuk mewujudkan kesiapsiagaan tersebut, Forkom Dewi Bali menjajaki kerja sama dan kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali dalam menyusun model serta standar operasional prosedur (SOP) mitigasi bencana khusus kawasan desa wisata.

Langkah mitigasi ini mencakup penyusunan tata kelola keselamatan, pemanfaatan standar Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE), hingga penyusunan aturan perilaku bagi wisatawan guna mencegah tindakan ceroboh yang memicu bencana.

Baca juga:  Kemenpar Siap Bangun 20.000 Homestay

Ia mencontohkan aktivitas pemanfaatan alam seperti perlintasan trekking di kawasan hutan yang sangat rentan terhadap bahaya kebakaran akibat kelalaian pembakaran sampah atau pembuangan puntung rokok sembarangan.

Mendra menambahkan penyediaan sarana prasarana serta penanggulangan bencana di kawasan perdesaan bukan sekadar tugas pemerintah atau pengelola semata, melainkan tanggung jawab bersama yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, hingga media massa.

“Jangan berpikir cuannya karena kita lihat dengan segala keterbatasan, tentu beberapa desa tidak ada asuransi untuk itulah kita perlu kesiapsiagaan, lewat kegiatan saya tertarik mengembangkan model desa wisata tangguh bencana ke depannya,” ujar Mendra.

Baca juga:  Bunga Gumitir Maskot Kabupaten Bangli

Seperti diketahui, Kampung adat suku Sasak, Desa Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terbakar pada Sabtu (22/8) malam. Api cepat berkobar karena seluruh bangunan rumah di desa wisata budaya tersebut terbuat dari material alami. Menurut keterangan warga, kobaran api seketika membubung tinggi mulai pukul 19.30 WITA.

Kebakaran itu menghanguskan sekitar 120 bangunan dan berdampak pada 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa. Selain rumah warga, sejumlah bangunan yang mendukung aktivitas budaya dan ekonomi masyarakat juga ikut terdampak.

Musibah kebakaran yang terjadi di destinasi desa wisata itu menjadi pengingat bahwa pengembangan destinasi wisata ke depan harus semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan, termasuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. (kmb/balipost)

BAGIKAN