Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore (21/8), ditutup naik seiring dengan penguatan bursa saham kawasan Asia.

IHSG ditutup menguat 24,10 poin atau 0,37 persen ke posisi 6.525,69. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,85 poin atau 0,92 persen ke posisi 644,59.

“Bursa regional Asia bergerak menguat, tampaknya pelaku pasar merespon rilis data ekonomi Jepang dan juga menantikan pertemuan komite China,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dikutip dari Kantor Berita Antara..

Dari kawasan Asia, Indeks Manajer (PMI) Manufaktur S&P Global Jepang meningkat menjadi 55,1 pada Agustus 2026 dari sebelumnya 54,5 pada Juli 2026, atau menandai bulan ke delapan berturut-turut ekspansi aktivitas pabrik.

Data itu menjadi pertumbuhan terkuat di sektor manufaktur sejak April 2026, karena perusahaan mencatatkan peningkatan tercepat dalam pekerjaan baru sejak Januari 2018, dengan penjualan luar negeri juga tumbuh dengan laju terkuat sejak awal 2018.

Selanjutnya, pelaku pasar akan fokus memperhatikan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yaitu pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China di Beijing pada 25-28 Agustus 2026.

Baca juga:  Status Awas, BNPB Larang Warga Beraktivitas Hingga Radius 12 Kilo dari Gunung Agung

“Pasar berharap mendapatkan panduan kebijakan tambahan setelah serangkaian data ekonomi lemah yang dilaporkan untuk bulan Juli 2026,” ujar Nico.

Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati volatilitas di Bursa Wall Street seiring serangkaian keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS), menggarisbawahi kekhawatiran yang semakin besar atas tingginya imbal hasil obligasi jangka panjang.

“Biaya pembiayaan pemerintah yang tinggi berdampak pada perekonomian secara lebih luas dan membebani pasar saham, setelah bertahun-tahun inflasi dan pengeluaran pemerintah yang tinggi,” ujar Nico.

Sementara itu, harga minyak mentah melanjutkan kenaikan seiring AS bersiap memberlakukan sanksi ekonomi baru yang lebih luas terhadap Iran. Kenaikan tersebut terjadi karena konflik AS dengan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan kedua pihak terkunci dalam sengketa atas Selat Hormuz.

AS bergerak untuk mengisolasi ekonomi Iran dalam apa yang digambarkan Presiden AS Donald Trump sebagai Hari-H ekonomi. Langkah-langkah yang diusulkan kemungkinan dirancang untuk memutus Teheran dari saluran keuangan dan komersial internasional, termasuk bank, bisnis, pendaftaran kapal, transfer uang tunai, dan jaringan penyelundupan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatatkan defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS pada triwulan II 2026, atau jauh lebih kecil dibandingkan defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.

Baca juga:  Presiden Tiba di Bali, Disambut Pasukan Jajar Kehormatan

Selanjutnya, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rencana BEI yang akan menghapus harga minimum Rp50 untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi pasar, serta menghilangkan kendala yang menurut investor telah mendistorsi perdagangan saham berharga rendah.

Aturan harga minimum Rp50 yang diberlakukan lebih dari satu dekade lalu untuk melindungi investor dari penurunan harga yang tajam, telah dikeluhkan oleh investor yang mengatakan bahwa aturan itu telah mendistorsi perdagangan saham berharga rendah.

“Penghapusan tingkat minimum akan memungkinkan harga untuk mencerminkan penawaran dan permintaan dengan lebih baik, dan langkah ini sejalan dengan upaya regulasi yang lebih luas untuk memperkuat likuiditas di pasar ekuitas Indonesia. Namun berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham-saham berharga rendah,” ujar Nico.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau menjelang penutupan perdagangan saham.

Baca juga:  AP II Ambil Alih Pengelolaan Bandara Fatmawati dan Raden Inten

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat yaitu dipimpin sektor infrastruktur yang menguat sebesar 0,61 persen, diikuti oleh sektor barang balu yang naik 0,57 persen dan sektor keuangan yang naik 0,31 persen.

Sedangkan tiga sektor melemah yaitu sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,73 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik yang turun masing-masing sebesar 0,38 persen dan 0,29 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu CSMI, GRIA, SDMU, PIPA, dan BLUE. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni HATM, SMLE, TCPI, AEGS, IKPM.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.234.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 56,72 miliar lembar saham senilai Rp17,37 triliun. Sebanyak 332 saham naik 314 saham menurun, dan 317 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 0,36 persen ke 66.040,00, indeks Shanghai menguat 0,04 persen ke 3.905,20, indeks Hang Seng menguat 1,21 persen ke 25.008,46, indeks Kospi menguat 0,88 persen ke 6.912,95, sedangkan indeks Strait Times menguat 0,32 persen ke 5.690,08. (kmb/balipost)

 

BAGIKAN