Eskavator sedang melakukan pengerukan sedimentasi di Waduk Muara Nusa Dua oleh BWS Bali-Penida. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Guna mengantisipasi bencana banjir besar terulang di wilayah Bali, BUMN pengelolaan sumber daya air Perum Jasa Tirta I (PJT I) menyiapkan Smart Water Management System (SWMS).

“Kita tahu pada September 2025 terjadi banjir yang cukup besar di Denpasar, harapannya hal-hal seperti ini bisa kami mitigasi ke depannya salah satunya dengan menerapkan Smart Water Management System atau SWMS,” kata Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air Wilayah Sungai (WS) Bali-Penida PJT I Hamim Ghufroni dilansir dari Kantor Berita Antara, Kamis (20/8).

Hamim menjelaskan langkah ini dilakukan seiring penugasan resmi dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) Kementerian PU kepada PJT I untuk mengelola wilayah sungai Bali-Penida mulai tahun ini.

Baca juga:  Dua Kabupaten Berpotensi Angin Kencang, Cek Prakiraan Cuaca Bali Pada 19 Agustus 2026

Dengan memasang sistem berbasis teknologi informasi maka akan menggantikan metode pemantauan manual yang kurang cepat dalam memberikan respons ancaman daya rusak air.

Teknologi ini juga telah dibuktikan sebab sudah terpasang di lima wilayah sungai lain yang lain dari hulu ke hilir.

Sebagai tahap awal pada tahun ini, PJT I telah memasuki proses pengadaan dan penandatanganan kontrak untuk memasang dua stasiun pemantau curah hujan otomatis Automatic Rain Recorder (ARR) serta dua stasiun pemantau level air Automatic Water Level Recorder (AWLR).

Baca juga:  Gudang Kayu di Peminge Terbakar, Kerugian Miliaran

Peralatan telemetri tersebut rencananya dipasang di titik-titik krusial kawasan Denpasar dan Badung, di antaranya fokus utama di Tukad Mati dan Waduk Muara, sesuai hasil koordinasi bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida.

“Tahun ini sudah selesai, ini kita sudah mulai pengadaan dan mulai proses kontraknya,” ucapnya.

Seluruh data dari lapangan dari kondisi debit air hingga pencemaran sungai, nantinya akan terhubung secara real-time ke Command Center PJT I di Malang.

Sistem tersebut otomatis mengelompokkan status kondisi air ke dalam tingkatan siaga hijau, kuning, hingga merah.

Melalui integrasi data ini, PJT I dapat mendeteksi lonjakan debit air dari kawasan hulu lebih awal serta mengambil tindakan pencegahan (early release), yakni mengeluarkan cadangan air waduk secara terukur sebelum debit banjir besar masuk.

Baca juga:  Diduga Mabuk, Perempuan AS Ngamuk di Vila

Dengan ini maka banjir besar di Bali tahun 2025 dapat diantisipasi, selain melalui upaya penanganan infrastruktur.

Meski tahap pertama baru dua titik yang disasar, Hamim mengatakan pihaknya juga mengidentifikasi titik pemasangan stasiun pemantau lanjutan di seluruh WS Bali-Penida secara berkelanjutan melalui studi rasionalisasi pos hidrologi.

Selain itu, PJT I menjalin kolaborasi dengan BMKG untuk memprakirakan potensi curah hujan hingga 4–5 hari ke depan, sehingga peringatan dini banjir dapat disebarkan kepada masyarakat secara presisi. (kmb/balipost)

BAGIKAN