
KUPANG, BALIPOST.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan gempa bumi magnitudo 6,1 mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/10), pukul 06.55 WITA, menyebabkan sedikitnya 20 rumah dan sejumlah fasilitas umum terdampak. Selain itu, terdapat satu warga yang dilaporkan meninggal dunia.
“Berdasarkan hasil pendataan sementara di lapangan, di Kabupaten Sumba Barat Daya tercatat 20 unit rumah terdampak, terdiri dari 19 unit rusak ringan dan satu unit rusak sedang,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dikutip dari Kantor Berita Antara.
Ia mengatakan kerusakan rumah tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Desa Waikadada, Weerena, Bondo Kodi, dan Homba Karipit.
Selain rumah warga, tiga fasilitas ibadah mengalami kerusakan ringan, yakni Gereja Pantekosta Victory Billa Cenge, Gereja Pantekosta Jata Ngedo Bila Cenge, dan Gereja Katedral Waitabula.
Gempa juga berdampak pada satu fasilitas pendidikan, yakni SDK Manu Toghi serta satu fasilitas umum berupa Balai KB Desa Wallandimu.
Di Kabupaten Sumba Barat tercatat tiga rumah atau asrama koramil mengalami kerusakan ringan. Sebanyak dua bangunan KDKMP juga mengalami kerusakan berupa plafon dan retakan pada tembok.
Ia mengatakan gempa tersebut juga menyebabkan satu orang mengalami luka ringan setelah tertimpa reruntuhan bangunan. Korban telah mendapatkan penanganan dan menjalani rawat jalan.
“Tidak terdapat laporan korban meninggal dunia maupun korban luka berat,” ujarnya.
Berdasarkan parameter awal BMKG yang diterima BNPB, gempa berpusat di laut sekitar 14 kilometer barat daya Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, pada koordinat 9,70 derajat Lintang Selatan dan 118,92 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Guncangan dirasakan cukup kuat di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Sejumlah warga sempat keluar dari rumah saat merasakan guncangan, namun situasi kemudian kembali kondusif. Wilayah pesisir bagian barat Pulau Sumba juga dilaporkan merasakan guncangan cukup kuat.
BPBD Kabupaten Sumba Barat Daya dan BPBD Kabupaten Sumba Barat melakukan pemantauan kondisi pasca-gempa.
Selain itu, personel Kodim 1613/Sumba Barat dan Kodim 1629/Sumba Barat Daya turut memantau wilayah terdampak, sedangkan aparat kewilayahan dan babinsa melakukan pendataan kerusakan.
Saat ini, posko awal penanganan bencana telah didirikan di Lapangan Makodim 1629/Sumba Barat Daya.
Sebanyak 173 personel disiagakan untuk mendukung pemantauan dan penanganan apabila diperlukan.
Personel tersebut terdiri atas 30 personel Kodim 1613/Sumba Barat, 68 personel Kodim 1629/Sumba Barat Daya, dan 75 personel Yonif TP 930/TT.
BNPB bersama BPBD Provinsi NTT dan BPBD kabupaten terdampak terus memutakhirkan data korban, kerusakan, dan kebutuhan masyarakat.
Berton mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta mengikuti informasi resmi dari BNPB, BMKG, BPBD, dan instansi terkait.
“Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan dan tidak memasuki bangunan yang kondisinya belum dinyatakan aman,” katanya.
Sementara itu, Kepolisian Sektor Kodi Utara, Polres Sumba Barat, Polda Nusa Tenggara Timur melaporkan seorang lansia berusia 73 tahun di Kodi Utara meninggal dunia akibat gempa.
“Satu orang dilaporkan meninggal dunia di wilayah Kodi Utara. Korban adalah seorang lansia yang meninggal karena shock atau kaget saat gempa terjadi,” kata Kapolsek Kodi Utara Akp Bernadus Bili Kandi.
Dia mengatakan lansia tersebut kaget saat melihat sejumlah keluarganya berhamburan keluar rumah saat gempa berkekuatan 6,1 mengguncang daerah tersebut.
Lansia tersebut sempat berada di luar rumah, namun berselang beberapa menit kemudian jatuh, tak sadarkan diri, dan meninggal dunia.
Korban langsung disemayamkan di rumahnya oleh keluarganya, setelah gempa terjadi di daerah tersebut. (kmb/balipost)










