Warga Siakin mendapat bantuan air bersih. (BP/Ist)

BANGLI, BALIPOST.com – Sejak hampir sebulan terakhir warga Banjar Siakin, Desa Siakin, Kintamani, terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu disebabkan lantaran bak penampungan desa mengering akibat menyusutnya debit mata air petirtan yang ada di desa setempat.

Perbekel Siakin, I Gede Disi, mengungkapkan bahwa penurunan debit mata air petirtan sudah dirasakan sejak tiga minggu hingga hampir sebulan terakhir. Kondisi yang dipengaruhi musim kemarau itu menyebabkan air yang mengalir ke bak penampungan terus menyusut dan tidak bisa mencukupi kebutuhan warga.

Baca juga:  Rayakan Tahun Baru, KJB Gelar Aksi Sosial

Disi mengatakan untuk mencukupi kebutuhan harian, warga harus membeli air Rp100 ribu per kubik. Air tersebut rata-rata cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama sekitar satu minggu. “Tergantung jumlah anggota keluarga dan pemakaiannya. Kalau keluarga dengan lima anggota keluarga, satu kubik air hanya cukup untuk sekitar satu minggu,” ungkap Disi, Rabu (12/8).

Sedangkan untuk kebutuhan pertanian, sejumlah warga telah tergabung dalam kelompok memanfaatkan sumber air dari sumur bor di desa lain. “Untuk kebutuhan pertanian ada beberapa kelompok warga yang sudah ngebor di wilayah desa Songan dan pinggan,” ujarnya.

Baca juga:  Porprov Bali Pertandingkan 38 Cabor

Ditengah mengecilnya debit air di desanya, Disi mengungkapkan pihaknya mendapat bantuan 20 ribu liter air bersih dari Korem 163/Wirasatya yang bekerjasama dengan sebuah warung. Bantuan telah didistribusikan ke bak penampungan desa, warga, serta bak penampungan di sekolah sejak Selasa lalu. Pihaknya sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan.

Disi juga mengatakan sebelumnya Kodim 1626/Bangli juga telah memberikan bantuan dua rol pipa untuk menyambung pipa yang sebelumnya diberi Pemkab Bangli guna mengalirkan air dari sumber mata air Sambongan. Hanya saja sumber air tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena membutuhkan biaya operasional cukup besar. Dikatakan bahwa untuk mengalirkan air dari sumber tersebut hingga ke bak penampungan di desa, diperlukan sekitar lima mesin. “Lumayan tinggi biaya operasionalnya,” ujarnya. (Eka Parananda/balipost)

Baca juga:  Kasus Harian Varian Omicron Melonjak, Australia Tetap Tiadakan Pembatasan

 

BAGIKAN