
SINGARAJA, BALIPOST.com – Debut pertama pegawai penyandang disabilitas Perumda Tirta Hita Buleleng dalam ajang gerak jalan 45 kilometer dewasa putra berakhir manis. Meski baru pertama kali mengikuti lomba bergengsi tersebut, pegawai tuna wicara asal Banjar Selat, Desa Selat, Kadek Dwi Adi Sura Apriliawan, berhasil mencapai garis finish dengan selamat dan menjadi inspirasi bagi peserta lainnya.
Keikutsertaan Kadek Dwi menjadi perhatian tersendiri di tengah perjuangan tim Perumda Tirta Hita Buleleng menaklukkan rute sepanjang 45 kilometer. Direktur Perumda Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, saat dikonfirmasi, Minggu (9/8) mengaku kagum dengan motivasi yang ditunjukkan pegawainya itu. Di tengah keterbatasan yang dimiliki, Kadek Dwi tetap bertekad mengikuti lomba hingga tuntas. “Motivasinya sangat luar biasa. Di tengah keterbatasannya, ia tetap bersemangat mengikuti lomba dan akhirnya berhasil finis dengan selamat,” ujarnya.
Menurut Lestariana, keberhasilan Kadek Dwi tidak hanya membanggakan tim Perumda Tirta Hita Buleleng, tetapi juga menjadi inspirasi bagi lingkungan kerja dan masyarakat. Ia menjelaskan, perusahaan baru merekrut pegawai penyandang disabilitas sebagai bagian dari komitmen memberikan kesempatan yang setara. “Kami ingin perusahaan juga mengakomodasi penyandang disabilitas. Ini bentuk kepedulian kami sekaligus komitmen untuk memberikan ruang yang sama bagi mereka,” ungkapnya.
Keberadaan pegawai disabilitas di lingkungan perusahaan, lanjut Lestariana, diharapkan menjadi nilai tambah sekaligus memperkuat semangat inklusivitas dalam pelayanan publik.
Sementara itu, Perumda Tirta Hita Buleleng mengirim satu tim pada lomba gerak jalan 45 kilometer dewasa putra yang diikuti 19 regu. Tim tersebut beranggotakan 20 orang, terdiri atas 17 peserta inti dan 3 cadangan. Dari 17 personel yang turun langsung, dua peserta tidak dapat melanjutkan lomba pada etape ketiga karena kondisi fisik yang sudah menurun drastis.
Dengan demikian, sebanyak 15 peserta berhasil menyelesaikan lomba hingga garis finis. Lomba menempuh rute sepanjang 45 kilometer, melintasi Celukan Bawang, Seririt, Pantai Lovina, dan berakhir di depan GOR Bhuwana Patra Singaraja. “Tim sudah tampil maksimal. Yang terpenting, tim kami bisa finis dengan selamat,” kata Lestariana.
Ia menegaskan, keputusan menghentikan dua peserta tersebut semata-mata demi keselamatan. Pihaknya tidak ingin memaksakan peserta yang kondisinya sudah sangat lemah untuk tetap melanjutkan perlombaan. “Kami mengutamakan keselamatan. Karena melihat kondisi mereka sudah sangat drop, tidak kami paksakan untuk melanjutkan lomba. Keselamatan yang utama,” tegasnya. (Yudha/balipost)










