
GIANYAR, BALIPOST.com – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Warmadewa (Unwar) di Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar, diarahkan tidak hanya sebagai bentuk pengabdian masyarakat.Tapi, juga menjadi sarana memperkuat literasi pengelolaan sampah berbasis sumber.
Mahasiswa diminta menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan edukasi praktis kepada masyarakat, khususnya kepada anak-anak sejak usia dini.
Harapan tersebut disampaikan Pemerintah Desa Tegallalang saat serah terima mahasiswa peserta KKN Unwar, Senin (20/7). Pemerintah desa menilai keberadaan mahasiswa menjadi kesempatan untuk menjembatani ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah.
Kepala Desa Tegallalang, Anak Agung Gde Raka Ardana, mengatakan pengelolaan sampah di desa saat ini telah mengacu pada kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang mendorong setiap desa mengoptimalkan pengolahan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi sekadar penyediaan sarana, melainkan membangun kesadaran masyarakat.
“Memang berdasarkan surat edaran gubernur, masing-masing desa diminta mengolah sampah melalui TPS. Namun, yang tidak kalah penting adalah edukasi,” ujar Raka Ardana.
Ia menilai selama ini masyarakat lebih banyak menerima imbauan untuk memilah sampah dari sumber, tetapi belum mendapatkan pendampingan yang memadai mengenai proses lanjutan setelah sampah dipilah. Akibatnya, banyak warga masih belum memahami bagaimana mengolah sampah organik maupun anorganik agar memiliki nilai manfaat.
Karena itu, mahasiswa KKN Unwar diminta aktif turun ke sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar, untuk menanamkan budaya peduli lingkungan sejak dini.
“Silakan turun ke sekolah-sekolah terkait literasi pengolahan sampah ini. Kami dari pemerintah desa sangat terbuka dan siap membantu memfasilitasi seluruh kegiatan KKN di sini. Apa yang didapatkan di bangku kampus, mari kita wujudkan dan lakukan di tengah masyarakat. Mari turun bersama untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengajarkan pentingnya memilah sampah, tetapi juga memberikan contoh praktik sederhana yang dapat diterapkan di rumah tangga maupun lingkungan sekolah. Edukasi juga diharapkan mampu membantu masyarakat memahami alur pengelolaan sampah hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Rektor Unwar, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP., mengakui bahwa pendekatan pengelolaan sampah selama ini masih didominasi penyampaian instruksi tanpa disertai panduan teknis yang mudah diterapkan masyarakat.
“Kita harus jujur mengakui bahwa selama ini masyarakat sering kali dihujani imbauan untuk mengelola sampah berbasis sumber. Namun sayang, imbauan tersebut kerap datang tanpa solusi konkret. Warga bingung setelah sampah dipilah, bahan organik itu mau diolah menjadi apa dan bagaimana caranya, termasuk metode pengomposan apa yang paling cocok diterapkan di rumah tangga,” ujarnya, Kamis (23/7).
Menurut Prof. Pandit, kondisi itu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa KKN untuk menghadirkan solusi yang sederhana, aplikatif, dan sesuai dengan karakteristik masyarakat desa. Edukasi yang diberikan diharapkan tidak berhenti pada teori, tetapi mampu menghasilkan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan civitas akademika Unwar dapat melahirkan model pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan demikian, keberadaan TPS 3R di desa tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga didukung oleh budaya masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumber. (Ketut Winata)










