
DENPASAR, BALIPOST.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru jenjang SMA dan SMK di Bali yang dimulai sejak Senin (13/7) telah berakhir. Namun, persoalan penerimaan peserta didik belum sepenuhnya tuntas.
Hingga kini masih terdapat 1.480 peserta Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 yang belum memperoleh sekolah alias tercecer.
Data Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali menunjukkan, dari total 2.567 peserta yang tidak lolos seleksi pada pelaksanaan SPMB SMA dan SMK, baru 1.087 siswa yang berhasil disalurkan ke satuan pendidikan yang masih memiliki daya tampung.
Kepala UPTD Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BP Tekdik) Disdikpora Provinsi Bali, I Komang Agus Kariasa, S.Pd., M.Pd., menjelaskan proses penyaluran masih terus berlangsung. “Masih (ada siswa tercecer,red), baru tersalurkan untuk SMA tahap pertama 731 dan SMK tahap pertama 356,” ujarnya, Sabtu (18/7).
Artinya, sebanyak 731 siswa telah memperoleh sekolah pada tahap penyaluran SMA dari 1.151 yang tercecer. Sementara 356 siswa berhasil ditempatkan pada SMK dari 1.416 yang tercecer. Dengan demikian, total siswa yang telah tertampung mencapai 1.087 orang.
Meski demikian, masih tersisa 1.480 peserta yang belum mendapatkan sekolah dan menjadi fokus penanganan Disdikpora Bali bersama sekolah-sekolah negeri maupun swasta.
Berdasarkan data hasil SPMB Tahap I dan Tahap II, tingkat keterisian SMA negeri di Bali mencapai rata-rata 70,87 persen. Dari total daya tampung 30.314 kursi, sebanyak 21.483 siswa dinyatakan lolos seleksi.
Kota Denpasar menjadi daerah dengan tingkat keterisian SMA tertinggi, yakni 87,03 persen, disusul Kabupaten Jembrana 81,73 persen dan Karangasem 80,70 persen. Sebaliknya, Kabupaten Tabanan mencatat tingkat keterisian terendah, hanya 49,72 persen.
Sementara pada jenjang SMK, tingkat keterisian secara rata-rata lebih tinggi, yakni 77,62 persen. Dari total daya tampung 24.844 kursi, sebanyak 19.283 siswa diterima.
Kota Denpasar kembali mencatat tingkat keterisian tertinggi sebesar 91,45 persen, diikuti Karangasem 85,18 persen, Buleleng 84,04 persen, dan Badung 83,85 persen. Adapun tingkat keterisian terendah berada di Kabupaten Bangli, yakni 60,62 persen.
Disdikpora Bali terus melakukan pemetaan terhadap sekolah yang masih memiliki kuota agar peserta didik yang belum tertampung dapat segera memperoleh akses pendidikan. Penyaluran dilakukan dengan mempertimbangkan sisa daya tampung di masing-masing sekolah serta domisili calon peserta didik.
Pemerintah Provinsi Bali menargetkan seluruh peserta didik yang masih tercecer dapat segera memperoleh sekolah sehingga hak atas pendidikan tetap terpenuhi meskipun tahapan utama SPMB dan MPLS telah berakhir. (Ketut Winata/balipost)










