Suasana Desa Wisata Penglipuran. (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Nama Desa Adat Penglipuran telah dikenal luas hingga ke kancah internasional sebagai salah satu destinasi wisata terbaik. Pencapaian tersebut merupakan buah dari konsistensi masyarakat setempat dalam menjaga adat, budaya, dan lingkungan.

Perjalanan Penglipuran menjadi desa wisata berawal dari upaya penataan lingkungan yang gencar dilakukan masyarakat setempat pada akhir tahun 1990-an. Di saat bersamaan, kehadiran mahasiswa dari Universitas Udayana yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) perlahan mulai menarik perhatian para wisatawan luar untuk berkunjung. Pada tahun 1993, Pemerintah Kabupaten Bangli kemudian secara resmi menetapkan Penglipuran sebagai objek wisata melalui surat keputusan (SK) bupati.

“Yang membedakan Penglipuran sejak awal adalah daya tarik wisatanya tidak dibangun demi kepentingan pariwisata, melainkan lahir dari komitmen pelestarian adat dan budaya yang dijalankan jauh sebelumnya. Jadi, pariwisata hadir mengikuti nilai-nilai luhur yang kami miliki,” ungkap Kelian Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta saat pembukaan festival Penglipuran ke -13 belum lama ini.

Baca juga:  Kejuaraan Motocross dan Grasstrack di Pengambengan

Lanjut dikatakannya, sejak ditetapkan sebagai desa wisata, tata kelola kepariwisataan di Penglipuran tumbuh dengan pendekatan berbasis masyarakat. Hal ini sejalan dengan visi desa wisata Penglipuran yakni berbasis masyarakat, berbudaya, dan berwawasan lingkungan.

Selanjutnya, perubahan besar terjadi sejak tahun 2012. Warga Penglipuran tidak lagi sekadar menjadi objek tontonan, melainkan mengambil peran penuh sebagai subjek atau pelaku utama pariwisata. Masyarakat mulai mengelola homestay hingga menjadi pemandu wisata guna memberikan informasi yang akurat kepada pengunjung. Melalui keterlibatan aktif ini, wisatawan diajak untuk merasakan langsung pengalaman hidup bersosialisasi di dalam desa adat. Warga pun terus bergerak menggali berbagai potensi budaya yang masih terpendam untuk dikembangkan.

Baca juga:  Bandara Buntu Kunik Toraja Permudah Akses Wisatawan

Budiarta mengungkapkan, komitmen kuat masyarakat dalam menjaga warisan leluhur telah mengantarkan Penglipuran meraih berbagai penghargaan bergengsi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Diantaranya, dengan meraih penghargaan Kalpataru dari pemerintah RI.

Di tahun 2016, Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu Desa Terbersih di Dunia, yang kini melekat sebagai branding utama Penglipuran. Pada 2023 lalu Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik di Dunia oleh UN Tourism. Selanjutnya pada 2025, Penglipuran kembali menerima Penghargaan Kalpataru Lestari atas keberhasilan mempertahankan kelestarian hutan bambu.

Baca juga:  Wisatawan Singapura ke Indonesia

Dia pun menegaskan bahwa Penglipuran bukanlah sekedar objek wisata. Melainkan sebuah museum hidup. “Di balik angkul-angkul dan rumah bambu yang tertata rapi di dalamnya hidup masyarakat yang sesungguhnya dengan adat istiadat ritual dan budaya yang terus berjalan,” jelasnya.

Budiarta juga menekankan bahwa apa yang dilihat oleh wisatawan bukanlah atraksi buatan untuk dipertontonkan, melainkan realitas kehidupan sehari-hari warga setempat. Keaslian nyata inilah yang menjadi pembeda utama Penglipuran.

Perjalanan lebih dari 30 tahun ini menjadi kebanggaan besar bagi desa kecil di Bangli tersebut, yang kini terus melangkah maju dengan menyelenggarakan festival budaya secara berkelanjutan. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN