Kegiatan MPLS siswa SMAN 1 Marga. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com –  Pergeseran minat lulusan SMP di Kabupaten Tabanan mulai terlihat pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027. Jika sebelumnya SMA menjadi pilihan utama, kini semakin banyak siswa memilih sekolah kejuruan (SMK), sehingga sejumlah SMA negeri mengalami penurunan serapan siswa baru.

Salah satunya dialami SMAN 1 Marga. Dari 12 rombongan belajar (rombel) yang disiapkan, sekolah hanya memperoleh 45 siswa baru atau setara dua rombel. Jumlah tersebut hampir tidak berubah dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang hanya menerima 44 siswa.

Kepala SMAN 1 Marga, I Wayan Dedi Armana, mengatakan, rendahnya jumlah siswa baru dipengaruhi perubahan pola pikir lulusan SMP yang kini lebih tertarik melanjutkan pendidikan ke SMK. “Fenomena sekarang sudah berubah. Tamatan SMP lebih banyak mencari sekolah kejuruan. Kalau tidak diterima di SMK negeri, mereka beralih ke SMK swasta,” ujarnya, Rabu (15/7).

Baca juga:  Perangi Knalpot Brong, Polisi Sisir Jalanan hingga Sambangi Sekolah

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di SMAN 1 Marga. Sejumlah SMA di wilayah Baturiti, Kerambitan hingga Penebel juga mengalami serapan siswa baru yang rendah.

Meski demikian, proses pembelajaran tetap berjalan efektif. Saat ini SMAN 1 Marga memiliki 32 tenaga pendidik, dengan jumlah guru yang berkurang karena banyak memasuki masa pensiun. Para siswa baru juga sedang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang difokuskan pada pendidikan karakter melalui kegiatan bakti sosial dan persembahyangan di Pura Luhur Serijong.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Tabanan, Wayan Sudarsana, menilai fenomena tersebut tidak sepenuhnya berarti seluruh SMK negeri mengalami lonjakan peminat.

Menurutnya, di wilayah perkotaan justru lulusan SMP masih banyak yang memilih SMA, sedangkan peningkatan peminat lebih banyak terjadi di SMK swasta, terutama yang membuka jurusan pariwisata (kuliner) dan kesehatan.

Baca juga:  TI Agung Suryawan akan Berakhir Usai Porprov Bali

Ia menjelaskan, sejumlah SMK swasta dengan program keahlian kuliner dan pariwisata bahkan mengalami kelebihan jumlah pendaftar. Sebaliknya, SMK negeri masih mampu memenuhi jumlah rombel, tetapi isi setiap kelas belum mencapai kapasitas maksimal.

Di SMKN 1 Tabanan misalnya, jurusan Administrasi Perkantoran yang berkapasitas maksimal 72 siswa hanya terisi 63 siswa. Jurusan Pemasaran hanya memperoleh 64 siswa dari kapasitas 72 siswa. Sementara jurusan Akuntansi yang selama ini menjadi favorit hanya membuka empat kelas dengan rata-rata isi sekitar 30 siswa per kelas dari batas maksimal 36 siswa. Adapun jurusan Teknik Komputer dan Jaringan hanya memperoleh 54 siswa untuk dua kelas, padahal daya tampung maksimal mencapai 72 siswa.

Baca juga:  Loka POM Gelar Pengawasan Jelang Galungan

“Kondisi SMK negeri lainnya di Tabanan hampir sama. Kami bersyukur sekolah kami masih dilirik, meski isi rombel belum penuh,” ujarnya.

Menurut Sudarsana, salah satu penyebab berkurangnya serapan di sekolah negeri adalah strategi penerimaan siswa baru yang dilakukan sekolah swasta lebih awal. Banyak sekolah swasta telah membuka pendaftaran sejak Maret, jauh sebelum penerimaan di sekolah negeri dimulai pada Juni.

Akibatnya, banyak calon siswa yang memilih mengamankan tempat di sekolah swasta dengan langsung melakukan pembayaran. Saat pendaftaran sekolah negeri dibuka, mereka enggan berpindah karena sudah telanjur mendaftar dan membayar di sekolah swasta.

“Terkadang ada siswa takut tidak diterima di sekolah negeri, sehingga lebih dulu memilih sekolah swasta. Setelah mendaftar dan membayar, mereka akhirnya tidak jadi mendaftar ke sekolah negeri,” jelasnya.(Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN