Para pengunjung menyaksikan penampilan ogoh-ogoh Banjar Tainsiat pada pembukaan D'Youth Festival 6.0 di Lapangan Puputan Badung IGN Made Agung, Denpasar, Sabtu (11/7). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh G.A.J.A.H dari Banjar Tainsiat karya ST. Yowana Saka Bhuwana, Banjar Tainsiat sukses memukau penonton pada pelaksanaan D’Youth 6.0. Ogoh-ogoh karya undagi Kedux Garage. Penampilannya ini menjawab rasa penasaran masyarakat, mengingat sebelumnya ogoh-ogoh ini sempat gagal tampil pada Pangerupukan atau H-1 Nyepi 2026.

Di balik karya yang memadukan seni dengan teknologi robot ini ada pesan yang tersirat di dalamnya. Saat dikonfirmasi, Senin (13/7), Kedux menjelaskan, kata G.A.J.A.H merupakan kependekan dari Ganggu Alam Jadi Ancaman Hidup.

Inspirasi tersebut bersumber dari adanya isu kerusakan hutan di Kalimantan yang mengganggu habitat hewan di sana. “Jadi saya hubungkan dengan ejaan Gajah itu pas lah dengan isu kerusakan hutan di Kalimantan itu,” ujarnya.

Baca juga:  Soal Dugaan Kebocoran Limbah B3 Kapal Cinta Natomas, Ini Tanggapan Pertamina

Dalam proses penyempurnaan kembali yang sebelumnya sempat patah, ogoh-ogoh ini baru benar-benar rampung pada Sabtu sore, pukul 16.00 WITA atau beberapa jam sebelum tampil. Untuk menyelesaikannya, ia bersama timnya pun sampai tidak tidur.

Namun demikian, jerih payah Kedux bersama ST. Yowana Saka Bhuwana terbayar. Kepadatan Lapangan Puputan mengisyaratkan antusiasnya masyarkat menyaksikan ogoh-ogoh yang setiap tahun selalu dinanti-nantikan tersebut.

Kedux mengaku begitu bahagia dengan suksesnya penampilan ogoh-ogoh di malam pembukaan D’Youth Fest 6.0, Sabtu (13/7).  “Beban 1,5 tahun hilang, jadi bisa perform ogoh-ogoh Gajah ini,” ungkap pria bernama lengkap I Nyoman Gede Sentana Putra ini.

Baca juga:  Palebon Ida Cokorda Pemecutan XI, Warga Padati "Ngarak" Ogoh-ogoh

Dalam penampilannya, ogoh-ogoh G.A.J.A.H berkolaborasi dengan Palawara Music Company dan Manubada Art. Mereka membawakan garapan bertajuk “Tumbuh Kembali di Tengah Reruntuhan Semesta”.

Pertunjukan pembuka tersebut menjadi representasi semangat kebangkitan, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan yang selaras dengan semangat D’Youth Fest sebagai ruang tumbuh kreativitas generasi muda.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Luh Putu Ryastiti, didampingi Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, AA Ngurah Mahendra Putra, mengatakan kolaborasi seni tersebut menjadi salah satu sajian utama yang memadukan kekuatan seni tradisi, kreativitas kontemporer, dan pesan pelestarian lingkungan.

Baca juga:  Keasyikan Nonton Ogoh-ogoh, Tiga WNA Diamankan Pecalang di Bongkasa

Menurutnya, karya tari kolosal “Tumbuh Kembali di Tengah Reruntuhan Semesta” mengangkat kisah perjalanan dari kehancuran menuju harapan. Rerangkat dari tema Regrow, pertunjukan ini menggambarkan bagaimana keserakahan manusia merusak keseimbangan alam hingga menghadirkan kehancuran.

Di tengah kondisi tersebut hadir sosok Sang Penjaga Agung sebagai simbol kebijaksanaan yang membangkitkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama.

Pertunjukan dibagi dalam tiga babak. Babak pertama menggambarkan eksploitasi alam yang melahirkan kerusakan, babak kedua menjadi titik balik ketika kesadaran mulai tumbuh dan alam kembali bernapas. Sedangkan babak ketiga menghadirkan harmoni baru ketika manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual kembali menyatu. (Widiastuti/balipost)

 

BAGIKAN