Suasana Diskusi Budaya Kawiya Bali dan PWI Provinsi Bali #4 serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026, di Gedung Perpustakaan, Taman Budaya Bali, Jumat (3/7). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perjalanan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang kini memasuki usia hampir 50 tahun dinilai sebagai proses panjang perkembangan kebudayaan yang terbagi dalam lima periode. Setiap periode memiliki karakteristik, orientasi, serta tantangan yang berbeda, namun tetap berpijak pada tujuan utama menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya Bali.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali dan PWI Provinsi Bali #4 serangkaian PKB XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Perpustakaan, Taman Budaya Bali, Jumat (3/7). Diskusi menghadirkan dua tokoh budaya yang mengikuti perjalanan PKB sejak awal penyelenggaraannya, yakni Prof. Dr. I Made Bandem dan Prof. Dr. I Wayan Dibia. Kegiatan dipandu I Nyoman Winata, wartawan sekaligus Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Bali.

Baca juga:  Amankan Peed Aya PKB 2026, Polresta Denpasar Kerahkan Ratusan Personel

Dalam pemaparannya, kedua budayawan menjelaskan bahwa perjalanan PKB dapat dipetakan ke dalam lima periode berdasarkan arah kebijakan dan kepemimpinan yang mewarnai perkembangannya. Periode pertama dimulai pada masa Gubernur Bali almarhum Prof. Ida Bagus Mantra sebagai pencetus PKB yang meletakkan fondasi pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali melalui festival tahunan.

Selanjutnya, periode pada masa kepemimpinan almarhum Ida Bagus Oka lebih menitikberatkan pada konsolidasi dan penataan identitas budaya Bali. Setelah itu, pada era Dewa Made Beratha, PKB berkembang dengan pelibatan masyarakat yang semakin luas sehingga ruang partisipasi seniman, komunitas, dan generasi muda semakin terbuka.

Baca juga:  Wakil Ketua I DPRD Bali I Wayan Disel Astawa Ucapkan Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan

Periode berikutnya berlangsung pada masa Gubernur Made Mangku Pastika yang memperkuat fungsi PKB sebagai sarana diplomasi budaya melalui berbagai festival seni dan penguatan jejaring kebudayaan. Sementara pada periode Gubernur Wayan Koster, PKB diarahkan untuk membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan melalui penguatan regulasi, perlindungan adat, tradisi, seni, dan budaya Bali.

Menurut Prof. Bandem dan Prof. Dibia, pembagian lima periode tersebut menunjukkan bahwa PKB mampu beradaptasi dengan dinamika zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali.

“Setiap periode memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda, tetapi semuanya saling melengkapi dalam memperkuat eksistensi PKB sebagai wahana pelestarian seni dan budaya Bali,” ungkap keduanya.

Baca juga:  Dari Kalamandala Menuju Atma Kerthi, Badung Hadirkan Kostum Daur Ulang Sarat Filosofi di Peed Aya PKB 2026

Mereka menilai keberhasilan PKB selama hampir lima dekade tidak hanya diukur dari keberlangsungan penyelenggaraannya, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan regenerasi seniman, memperkuat identitas budaya, serta menjadikan Bali sebagai salah satu pusat kebudayaan yang diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui diskusi tersebut, para peserta diajak memahami perjalanan historis PKB sebagai sebuah proses kebudayaan yang terus berkembang. PKB dinilai bukan sekadar agenda tahunan, melainkan instrumen strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus menjawab tantangan perkembangan zaman melalui inovasi yang tetap berakar pada nilai-nilai tradisi Bali. (Adv/balipost)

BAGIKAN