Dr. I Made Mulyawan, MD, PhD (2 kiri) memberikan keterangan terkait bedah saluran cerna menggunakan robot dalam Bali Robotic Surgery Symposium yang digelar di Bali International Hospital (BIH), Sanur. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebuah operasi saluran cerna menggunakan robot untuk pertama kalinya digelar di Bali dan Indonesia Timur. Bedah robotik yang dilakukan Dr. I Made Mulyawan, MD, PhD, Dokter Spesialis Bedah Umum, Konsultan Bedah Digestif, Bali International Hospital ini menggunakan prosedur robotic-assisted cholecystectomy (operasi pengangkatan kantong empedu).

Penggunaan robot dalam pembedahan melakukan kombinasi antara robotic-assisted cholecystectomy dan adrenalectomy juga berhasil dilakukan oleh Prof. Iswanto Sucandy, MD, FACS, ahli bedah digestif Bali International Hospital yang berpraktik di Amerika Serikat. Bahkan, penggunaan robot dalam dua prosedur ini untuk pertama kalinya dilakukan di Indonesia.

Rangkaian operasi tersebut merupakan bagian dari Bali Robotic Surgery Symposium, sebuah forum ilmiah yang mempertemukan para ahli bedah,  gastroenterolog, akademisi, dan tenaga kesehatan dari berbagai institusi untuk berbagi pengetahuan, menyaksikan secara langsung prosedur bedah robotik, serta mendiskusikan masa depan bedah minimal invasif.

Prof. Iswanto mengatakan peran prosedur bedah robotik dalam perkembangan bedah digestif modern makin besar.

Baca juga:  Sejumlah Ternak Sapi Kelompok di Tegal Badeng Timur Mati

“Operasi robotik telah mengubah cara kami menangani berbagai prosedur bedah digestif yang kompleks. Teknologi ini memberikan fleksibilitas, presisi, dan kontrol yang lebih baik sehingga membantu dokter bedah melakukan tindakan yang lebih aman, meningkatkan luaran klinis, sekaligus memberikan kualitas perawatan yang lebih optimal bagi pasien.”

Sementara itu, Dr. Mulyawan menegaskan bahwa kehadiran teknologi ini tidak hanya berbicara mengenai inovasi perangkat medis.

“Hadirnya operasi saluran cerna robotik di Bali merupakan langkah penting dalam memperluas kapabilitas bedah berteknologi tinggi di Indonesia. Yang tidak kalah penting adalah terbukanya kesempatan bagi dokter bedah dan tenaga kesehatan Indonesia untuk belajar melalui kolaborasi internasional, alih pengetahuan, serta pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.”

Sebagai pembicara tamu dalam simposium, Prof. Seung Kook Cho, MD, Dokter Spesialis Gastroenterologi di Wonju Severance Christian Hospital, Yonsei University Wonju College of Medicine, Korea Selatan menyampaikan bahwa teknologi robotik merupakan bagian dari evolusi sistem layanan kesehatan modern.

Baca juga:  JLL Dipercaya Kelola Fasilitas BIH yang Diresmikan Presiden Prabowo

“Teknologi robotik tidak hanya meningkatkan kapabilitas klinis, tetapi juga mencerminkan kesiapan sebuah institusi dalam menghadirkan layanan kesehatan yang modern, aman, dan berpusat pada pasien,” katanya.

Simposium dan pelaksanaan operasi robotik ini, disampaikan penyelenggara, Dr. Noel Yeo, sebagai komitmen mendorong kemajuan layanan kesehatan melalui kolaborasi internasional, pendidikan klinis, serta penerapan teknologi medis mutakhir, sekaligus mendukung pengembangan kompetensi tenaga kesehatan Indonesia.

Noel yang merupakan President Director dan CEO Bali International Hospital ini mengatakan pencapaian ini memiliki makna yang jauh melampaui dari sekadar demonstrasi teknologi.

“Keberhasilan prosedur robotik yang dilakukan selama dua hari terakhir menjadi tonggak penting bagi Bali International Hospital yang berusia 1 tahun, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, serta ekosistem layanan kesehatan Indonesia. Lebih dari sekadar tindakan operasi, pencapaian ini menunjukkan pentingnya kolaborasi internasional, pendidikan klinis, dan alih teknologi dalam meningkatkan kapabilitas layanan kesehatan di Indonesia,” jelasnya, Selasa (30/6).

Baca juga:  Jelang Peresmian, KEK Sanur Masih Diselimuti Hujan

Ia memaparkan prosedur bedah robotik memberikan visualisasi tiga dimensi yang lebih baik, fleksibilitas pergerakan instrumen yang lebih tinggi, serta tingkat presisi yang lebih optimal bagi dokter bedah dalam menangani prosedur minimal invasif yang kompleks. Bergantung pada kondisi klinis pasien, prosedur ini juga berpotensi memberikan berbagai manfaat, seperti sayatan yang lebih kecil, perdarahan yang lebih minimal, nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, lama rawat inap yang lebih singkat, serta proses pemulihan yang lebih cepat.

Dalam simposium tersebut, diperkenalkan Edge® MP1000 Multi-port Endoscopic Robotic Surgical System yang digunakan untuk mendukung demonstrasi operasi secara langsung. Kehadiran teknologi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi internasional dapat mempercepat akses terhadap teknologi bedah mutakhir sekaligus memperkuat kapasitas klinis dan proses alih pengetahuan di Indonesia. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN