Pelari Kalcer berlari di kawasan Sanur, Denpasar pada Minggu (28/6). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Lari kini tidak lagi cuma upaya mencari keringat dan hidup sehat, trennya telah bergeser menjadi sebuah gaya hidup yang sarat akan nilai budaya dan sosial.

Di Kota Denpasar misalnya, tren yang dikenal dengan sebutan culture run (lari kalcer) ini tengah naik daun. Aktivitasnya tak melulu olahraga lari, melainkan berpadu dengan eksplorasi keindahan alam lokal, jalur budaya, hingga pemberdayaan masyarakat.

Salah satu komunitas yang menekuni tren lari ini adalah Pelari Kodya. Ketua Pelari Kodya, Ida Bagus Purwana Sara, Minggu (28/6), menceritakan bahwa komunitas ini terbentuk dari ketidaksengajaan.

Pada awalnya, para anggota adalah individu-individu yang sering berpapasan saat sedang berlari secara mandiri di berbagai lintasan populer di Denpasar, seperti di kawasan Sanur, Kertalangu, Renon, hingga kawasan Lapangan Puputan Badung.

“Awalnya kami para teman-teman ini kan sering ketemu di lintasan, baik di Sanur, Kertalangu, dan Renon. Ternyata sudah saling kenal, (lalu terpikir) kenapa tidak kita gabung? Biar tidak sendiri-sendiri, kan perlu juga kita saling tukar informasi,” ujar pria yang merupakan Camat Denpasar Selatan ini.

Komunitas Pelari Kodya resmi berdiri tidak lama setelah adanya aksi solidaritas bersama. Momen pemicunya adalah ketika terjadi musibah banjir bandang pada September 2025.

Komunitas pun terbentuk pada akhir Oktober 2025. Para pelari yang biasa bergerak sendiri-sendiri ini akhirnya berkumpul untuk menggalang donasi, dan dari sinilah fondasi komunitas Pelari Kodya diperkuat.

Baca juga:  BI Rate Naik, Perbankan Belum Berencana Naikkan Suku Bunga

Saat ini, komunitas tersebut telah tumbuh dan memiliki kurang lebih 150 anggota, yang terdiri dari gabungan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Denpasar serta masyarakat umum Kota Denpasar.

Sebagai komunitas yang berbasis di ibu kota Provinsi Bali, Pelari Kodya aktif menggaungkan tren lari kalcer. Kegiatan lari mereka tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga bertujuan untuk mendukung program-program pemerintah Kota Denpasar, termasuk memeriahkan festival-festival kota.

Melalui lari kalcer, Pelari Kodya berupaya mengangkat potensi pariwisata daerah dengan memilih jalur-jalur lari (jogging track) yang memiliki nilai estetika dan kearifan lokal.

Beberapa trek favorit mereka di antaranya Sanur yang menyuguhkan pemandangan pantai dan matahari terbit yang ikonik dan subak-subak Kota Denpasar karena menyajikan kawasan hijau persawahan tengah kota yang menawarkan suasana asri dan tradisional.

Melalui gerakan lari bersama ini, Purwana berharap budaya hidup sehat dapat semakin melekat di hati warga Denpasar. Lebih dari itu, komunitas ini juga bertujuan untuk terus mempromosikan identitas Denpasar agar dikenal lebih luas.

“Harapan kami, kita mengajak budaya hidup sehat untuk olahraga bersama, kemudian mempromosikan juga Kota Denpasar sebagai ‘Kotaku Rumahku’,” pungkasnya.

Keberadaan tren lari kalcer ini pun mulai dilirik penyelenggara event lari. Menurut Triadi Resta yang merupakan Race Director BPD Bali Culture Run 2026, pihaknya melihat potensi pelari kalcer sangat besar.

Hal ini terlihat dari penyelenggaraan lari kalcer yang berlangsung Minggu (28/6) di Sudamala Resort Sanur serangkaian BPD Bali Culture Run 2026 di kawasan Peninsula, ITDC The Nusa Dua, 26 Juli 2026.

Baca juga:  Setelah Sempat Diancam Santet Mantan Pacar, Dua Sepeda Motor Terbakar

“Sebelumnya, tujuh (seri) dilaksanakan di Bali, di seputaran Denpasar, Tabanan, Gianyar, dan juga Badung. Kemudian satu kali dilaksanakan di Jakarta,” jelas Triadi.

Seri kedelapan di Bali yang digelar hari ini di kawasan Sanur diakui menjadi seri penutup yang paling spesial dan memperoleh sambutan luar biasa dari komunitas lari. “Hari ini yang pemungkas, yang terakhir, dan yang paling ramai hari ini,” tambahnya.

Ia mengatakan ada dua kategori lomba bagi para peserta, yaitu jarak 5 kilometer (5K) dan 10 kilometer (10K). Menggabungkan unsur olahraga dengan pesona budaya serta keindahan alam Bali, event ini menargetkan total 4.000 peserta.

Minat masyarakat terhadap ajang ini terbukti sangat tinggi. Triadi menyampaikan tiket untuk kategori 5K saat ini sudah habis terjual (sold out). Sementara itu, bagi masyarakat yang masih ingin bergabung, slot untuk kategori 10K masih ada, namun sangat terbatas menjelang ditutupnya pendaftaran pada 5 Juli 2026.

“Kategori 5 kilo sudah sold out. Kita masih ada di kategori 10K, hanya tersisa 200 slot lagi,” ungkap Triadi.

Sementara itu, Resort Manager Sudamala Resort Sanur, Made Sudiana, yang terlibat dalam penyelenggaraan sesi terakhir ini mengatakan lari kalcer cukup populer di kawasan Sanur.

“Kebetulan resort kami mengusung art and culture yang kuat sekali, terutama local culture, dan juga tentang keberlanjutan atau sustainable. Jadi dalam hal ini kami mendukung kegiatan ini,” ujar Made Sudiana.

Baca juga:  Dua Kapal Pesiar Sandar di Pelabuhan Benoa, Bawa Penumpang Ribuan Orang

Ia pun menilai berlari merupakan aktivitas penting dalam menjaga kesehatan. Diakui, keterlibatan dalam ajang yang mempertemukan berbagai komunitas pelari ini juga menjadi jembatan dalam memperkenalkan jaringan akomodasi yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Sanur, Lombok, dan Flores.

Meskipun aktif mendukung kegiatan olahraga lari, Sudiana mengakui bahwa untuk saat ini pihaknya belum memiliki komunitas pelari internal. Selama ini, kegiatan olahraga yang memfasilitasi karyawan masih berfokus pada bidang lain, seperti sepak bola dan bulu tangkis.

Meski demikian, potensi ke arah sana dinilai sangat terbuka lebar mengingat besarnya dampak positif dari aktivitas lari. Terlebih lagi, langkah serupa sebenarnya sudah pernah diterapkan di jaringan resort mereka yang lain.

“Sebenarnya di Sudamala Resort kita yang di Komodo sempat juga men-support Komodo Run di sana. Nah, di Komodo, kita (para staf) ikut di Komodo Runner namanya,” jelas Sudiana.

Berkaca dari kesuksesan di Komodo dan melihat antusiasme yang luar biasa pada lari kalcer ini, Sudiana membuka peluang besar untuk segera membentuk komunitas serupa di Bali. Hal ini diharapkan dapat menjadi wadah bersama, baik bagi para staf maupun para tamu resort yang memiliki kegemaran berolahraga lari. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN