Jukung Skateboard hasil inovasi Kelompok Nelayan Bakti Ulam Segara, Banjar Sema di nilai Tim dari Provinsi. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Kabupaten Gianyar kembali menunjukkan taringnya dalam ajang inovasi tingkat Provinsi Bali. Melalui proses seleksi ketat yang difasilitasi oleh Citra Kara Raksita, dua dari enam bidang inovasi yang dikompetisikan berhasil menembus tahap penilaian lapangan pada ajang Penghargaan Anugerah Bali Swacitta Nugraha Tahun 2026.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Gianyar, Ketut Sedana, Rabu (24/6) mengungkapkan bahwa kedua bidang yang sukses melaju ke tahapan krusial tersebut adalah bidang perikanan kelautan dan bidang pariwisata. Salah satu inovasi yang mencuri perhatian tim penilai dalam kategori perikanan kelautan adalah Jukung Skateboard. Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas permasalahan nyata yang dihadapi oleh para nelayan di Kabupaten Gianyar yang kerap kesulitan menangkap lobster di area berkarang dan rawan gelombang besar.

Baca juga:  Gempa Kembali Guncang Bali

Sosok di balik inovasi Ketut Adi Putra, Ketua Kelompok Nelayan Bakti Ulam Segara, Banjar Sema, Desa Keramas. Berangkat dari risiko keselamatan kerja yang tinggi, ia berhasil menciptakan perahu berbahan dasar spons Eva yang diklaim ramah karang dan memiliki tingkat keamanan tinggi.

Adi Putra menceritakan, jika menggunakan perahu berbahan fiberglass pada umumnya, benturan dengan karang dapat menyebabkan perahu pecah, terutama pada bagian mesin. Akibatnya, nelayan terpaksa menggunakan ban atau berenang manual untuk mencapai sarang lobster.

Baca juga:  Cuaca Ekstrem, Pasokan Ikan di Badung Stabil

“Makanya saya ciptakan perahu ini biar kita bisa langsung ke tempat lobsternya. Naik ke karang pun bisa dan tidak ada kendala,” jelas Adi Putra.

Jukung Skateboard buatan Adi Putra ini dirakit dengan memanfaatkan mayoritas barang bekas yang dikombinasikan dengan struktur tulang kayu di dalamnya. Karakteristik bahan spons Eva yang mirip dengan bahan dasar sandal membuat perahu ini elastis namun sangat tangguh.

Sejumlah fitur inovatif yang disematkan pada perahu ini meliputi inovasi sayap berfungsi menahan kondisi overheat agar suhu mesin besar tidak naik secara drastis. Pelampung khusus dan Katir menjaga keseimbangan total dan mencegah perahu tenggelam meskipun dihantam ombak besar. Pemecah gelombang, desain khusus agar air laut tidak mudah masuk ke dalam lambung perahu.

Baca juga:  Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Seraya Timur, Ini Alasannya

Sistem Tenaga Surya (Solar System) memanfaatkan panel surya sebagai penunjang energi kelistrikan perahu yang ramah lingkungan. Inovasi ini mendapat perhatian serius dari Tim Juri Penilaian Lapangan Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026, salah satunya Prof. Dr. Ir. I Wayan Supartha, M.S., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Tim juri mendorong agar inovasi lokal yang orisinal ini tidak berhenti di tahap perlombaan, melainkan berlanjut ke tahap hilirisasi. (Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN