Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memberikan keterangan kepada awak media seusai rapat konsolidasi terkait persiapan PON 2028 di Jakarta, Selasa (23/6). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 tidak boleh menjadi ajang saling membajak atlet antar daerah.

Ia meminta seluruh pemangku kepentingan olahraga di Indonesia untuk mengedepankan pembinaan atlet lokal dan menghentikan praktik perekrutan atlet andalan dari daerah lain demi mengejar prestasi instan.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Erick usai menghadiri rapat konsolidasi persiapan PON 2028 di Jakarta, Selasa (23/6). Menurutnya, semangat utama PON adalah menjadi panggung bagi setiap provinsi untuk menunjukkan keberhasilan sistem pembinaan atlet yang telah dijalankan selama bertahun-tahun.

“Jangan sampai PON 2028 berubah menjadi ajang bajak-membajak atlet. PON harus menjadi cerminan kekuatan pembinaan olahraga di masing-masing daerah,” tegas Erick, dilansir dari Kantor Berita Antara.

Ia menilai praktik perpindahan atlet demi kepentingan prestasi jangka pendek justru mengaburkan potensi sesungguhnya yang dimiliki setiap daerah. Akibatnya, proses evaluasi dan pengembangan olahraga daerah menjadi tidak optimal karena prestasi yang diraih tidak sepenuhnya berasal dari hasil pembinaan lokal.

Baca juga:  1.274 Golden Visa Diterbitkan, Realisasi Investasi Capai Rp52,1 T

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Menpora berencana melakukan koordinasi intensif dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia guna menyamakan persepsi terkait regulasi dan mekanisme pelaksanaan PON 2028. Penyelarasan aturan dianggap penting agar kompetisi olahraga terbesar di Indonesia itu berjalan lebih tertib, transparan, dan berkeadilan.

Selain membahas perpindahan atlet, koordinasi dengan KONI juga akan mencakup penentuan cabang olahraga dan nomor pertandingan yang akan dipertandingkan. Erick menekankan pentingnya menyesuaikan jumlah nomor yang diperlombakan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

“Jangan sampai semua nomor dipertandingkan tetapi anggarannya tidak tersedia. Kita harus realistis dan terukur,” ujarnya.

Baca juga:  Publikasi Jurnal di Indonesia Mayoritas Masih Abal-abal

Lebih jauh, Erick mendorong setiap daerah untuk fokus mengembangkan cabang olahraga yang sesuai dengan karakteristik wilayah, potensi atlet, serta fasilitas yang dimiliki. Menurutnya, strategi tersebut akan membuat pembinaan berjalan lebih efektif dan menghasilkan atlet-atlet berkualitas yang mampu bersaing di level nasional maupun internasional.

Ia mencontohkan bahwa tidak semua daerah harus mengembangkan seluruh cabang olahraga. Sebaliknya, daerah perlu membangun kekuatan pada cabang-cabang yang memang memiliki tradisi prestasi dan dukungan sarana yang memadai.

“Pembinaan yang fokus dan berkelanjutan akan melahirkan atlet-atlet unggulan yang nantinya bisa menjadi tulang punggung Indonesia di berbagai kejuaraan internasional,” katanya.

Terkait kesiapan infrastruktur, Menpora juga menegaskan arahan pemerintah bahwa penyelenggaraan PON 2028 tidak akan membangun arena olahraga baru. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya efisiensi anggaran yang saat ini menjadi prioritas pemerintah.

Baca juga:  Futsal Agar Pertahankan Prestasi Saat Jadi Tuan Rumah AFC

PON 2028 sendiri akan digelar di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, dengan DKI Jakarta berperan sebagai daerah penyangga. Pemerintah menginginkan seluruh fasilitas yang digunakan merupakan venue yang sudah tersedia dan layak pakai sehingga anggaran dapat difokuskan pada peningkatan kualitas penyelenggaraan serta pembinaan atlet.

“Ini bukan lagi era pembangunan yang berlebihan. Semua harus efektif, efisien, dan tepat sasaran,” tegas Erick.

Dengan sejumlah langkah pembenahan tersebut, Menpora berharap PON 2028 tidak hanya sukses dari sisi prestasi olahraga, tetapi juga menjadi contoh penyelenggaraan ajang multi-event yang profesional, akuntabel, dan mampu mendorong lahirnya atlet-atlet terbaik hasil pembinaan daerah di seluruh Indonesia. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN