
NEGARA, BALIPOST.com – Kabupaten Jembrana menyiapkan penampilan kesenian khas Jembrana dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Sedikitnya 925 seniman dilibatkan untuk mengikuti berbagai agenda seni dan budaya, dengan sajian berbasis bambu sebagai kekuatan utama yang akan ditonjolkan dalam pawai pembukaan atau peed aya.
Kontingen Jembrana saat ini telah memasuki tahap akhir persiapan setelah menjalani serangkaian kurasi, pembinaan, dan evaluasi dari tim Provinsi Bali. Beragam materi pertunjukan yang akan dibawakan disebut telah memenuhi arahan kurator dan siap ditampilkan pada panggung PKB tahun ini.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana Anak Agung Komang Sapta Negara, Kamis (11/6) mengatakan, kesiapan kontingen Jembrana telah mencapai sekitar 80 hingga 90 persen.
Menurutnya, Jembrana berkomitmen mengikuti seluruh agenda utama PKB, mulai dari peed aya, utsawa, wimbakara hingga rekasadana. Dari seluruh rangkaian tersebut, Kabupaten Jembrana menyiapkan 12 penampilan yang melibatkan ratusan seniman dari berbagai kecamatan.
“Secara keseluruhan ada 12 penampilan yang kami siapkan. Jumlah seniman yang terlibat mencapai sekitar 925 orang. Semua sudah melalui proses pembinaan dan kurasi dari provinsi,” ujarnya.
Salah satu penampilan yang menjadi perhatian adalah peed aya. Pada pawai pembukaan tersebut, Jembrana akan mengerahkan sekitar 250 seniman dengan konsep yang menonjolkan identitas daerah melalui instrumen musik bambu.
Konsep tersebut digarap bersama Paguyuban Jegog Pring Agung Kabupaten Jembrana. Seluruh alat musik yang digunakan dalam pawai berasal dari bahan bambu, mulai dari gong suling, bumbung kepyak, bumbung joged hingga seperangkat jegog. Adi menjelaskan, konsep itu sengaja dipilih untuk mempertegas karakter kesenian Jembrana yang selama ini identik dengan tradisi bambu.
Ditambahkan Koordinator Lapangan Duta Kabupaten Jembrana pada PKB XLVIII yang juga Kepala Bidang Kesenian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, I Putu Adi Arianto, bahwa semua instrumen yang tampil berbahan bambu.
“Bahkan instrumen yang biasanya terbuat dari logam kami hadirkan dalam bentuk bambu. Ini menjadi ciri khas yang ingin kami tonjolkan tahun ini” tambahnya.
Menurut dia, konsep tersebut mendapat respons positif dari tim kurator dan pembina Provinsi Bali. Upaya mengangkat identitas lokal secara konsisten dinilai menjadi nilai lebih yang membedakan Jembrana dari daerah lain.
Dalam peed aya nanti, penampilan akan disusun secara berjenjang, mulai dari kelompok instrumen berukuran kecil hingga kelompok besar. Formasi itu dirancang untuk menggambarkan perkembangan kesenian bambu yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Jembrana.
Kelompok gong suling, bumbung kepyak, bumbung joged hingga jegog akan tampil berurutan dalam satu kesatuan pertunjukan. Seluruh materi peed aya sendiri telah dipersiapkan sejak Februari 2026 dan terus mendapatkan pendampingan dari tim pembina provinsi.
Selain pawai pembukaan, Jembrana juga menyiapkan sejumlah pertunjukan unggulan pada kategori rekasadana. Salah satunya adalah pergelaran jegog dengan konsep “jegog tempo dulu” yang menghadirkan nuansa permainan jegog klasik yang pernah berkembang di Jembrana.
Pada kategori wimbakara, Jembrana akan berpartisipasi dalam lomba baleganjur, taman penasar dan gender wayang. Sementara pada kategori utsawa atau parade, sejumlah duta seni yang disiapkan meliputi gong kebyar anak-anak, gong kebyar dewasa, gong kebyar wanita, busana adat daerah, palegongan klasik, joged bumbung hingga drama gong.
Adi menambahkan, seluruh kelompok seni yang akan tampil telah mengikuti pembinaan intensif sejak beberapa bulan terakhir. Sejumlah kelompok bahkan telah menjalani uji coba penampilan sebagai bagian dari evaluasi akhir sebelum tampil di PKB. Menurutnya setelah persiapan yang sudah berjalan sejak Februari, para seniman meyakini penampilan dapat berjalan maksimal. (surya dharma/balipost)










