Pemdes Tulikup menyalurkan punia berupa hewan babi ke 11 Pura Dang Kahyangan dan Kahyangan Tiga di wilayah setempat yang tengah melaksanakan upacara wali atau piodalan. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Tulikup, Kecamatan Gianyar, menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung kelestarian adat serta meringankan beban ekonomi warganya. Melalui program inovatif, Pemdes Tulikup menyalurkan punia berupa hewan babi ke 11 Pura Dang Kahyangan dan Kahyangan Tiga di wilayah setempat yang tengah melaksanakan upacara wali atau piodalan.

Program yang bersumber dari optimalisasi Pendapatan Asli Desa (PADes) ini dirancang untuk memastikan kehadiran Pemdes yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sarana upacara keagamaan yang tergolong besar.

Perbekel Desa Tulikup, I Made Ardika, mengungkapkan seluruh anggaran program ini murni memanfaatkan PADes yang dikelola secara mandiri melalui berbagai unit usaha milik desa, seperti pasar desa, usaha gas elpiji, hingga penyediaan sembako. Saat ini, estimasi PADes Tulikup yang berhasil dikelola berkisar antara Rp300 juta hingga Rp500 juta.
“Program ini kami laksanakan untuk membantu masyarakat. Kami ingin kehadiran desa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga, terutama saat melaksanakan swadarma keagamaan,” ujar I Made Ardika, Rabu (10/6).

Baca juga:  Waspadai Perang Israel-Hizbullah, Tujuh Negara Minta Warganya Tinggalkan Lebanon

Dipilihnya bantuan berupa babi bukan tanpa alasan. Hewan ini merupakan salah satu sarana utama (wewalungan) yang sangat penting dalam pelaksanaan berbagai upacara adat dan keagamaan di Bali. Secara teknis, nilai bantuan yang disalurkan mencapai sekitar Rp11 juta untuk setiap paket bantuan yang mayoritas terdiri atas dua ekor babi untuk sejumlah Pura Kahyangan. Kendati demikian, penyaluran tetap dilakukan secara proporsional.

Desa Tulikup sendiri menaungi tujuh banjar dinas dan dua desa adat, yakni Desa Adat Tulikup Kelod dan Desa Adat Tulikup Kaler. Sebagai contoh penyesuaian, untuk wilayah Banjar Siyut, bantuan yang diserahkan berupa satu ekor babi yang disesuaikan dengan jumlah krama (anggota banjar) setempat. Selain sukses meringankan beban operasional upacara di pura, program yang telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan ini juga membawa dampak domino yang positif bagi sektor ekonomi riil di pedesaan.

Baca juga:  Peternak Minta Pemerintah Bantu Dongkrak Harga Jual Babi

Seluruh babi yang disalurkan dalam program punia ini wajib dibeli langsung dari para peternak lokal yang ada di Desa Tulikup. Langkah ini sengaja diambil untuk memastikan perputaran uang tetap berada di dalam desa dan langsung menyentuh para pelaku usaha kecil. “Kami memberdayakan peternak lokal agar manfaat program ini dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Jadi selain membantu kelancaran upacara di pura, program ini secara otomatis ikut menggerakkan dan mendukung usaha warga desa kami sendiri,” imbuh Ardika.

Baca juga:  Tradisi Mepatung, Kedonganan Siapkan 110 Ekor Babi

Inisiatif cerdas Pemdes Tulikup ini pun mendapat apresiasi dan sambutan hangat dari krama desa. Warga menilai bantuan ini sangat adaptif terhadap kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus menjadi bukti nyata kepedulian jajaran pemerintah desa terhadap kelestarian adat dan budaya.

Melalui program punia yang berkelanjutan ini, I Made Ardika berharap jalinan komunikasi dan hubungan harmonis antara pemerintah desa dan masyarakat dapat semakin solid.
“Kepedulian desa terhadap kebutuhan fundamental warga kami yakini akan menumbuhkan rasa memiliki. Ke depan, hal ini tentu akan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung setiap program pembangunan yang dicanangkan Desa Tulikup,” pungkasnya. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN