
DENPASAR, BALIPOST.com – Sektor vila tumbuh pesat, menjamur di kawasan-kawasan pariwisata, seperti Ubud, Badung Selatan, Sanur dan lainnya. Di tengah menjanjikannya sektor ini, sejumlah tantangan dihadapi, dari vila ilegal, alih fungsi lahan yang tak terkendali, hingga perang harga yang tidak sehat. Demikian disampaikan Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), I Kadek Adnyana, Selasa (26/5) di Denpasar.
ia mengatakan tantangan lain yang juga perlu mendapatkan solusi adalah pengelolaan limbah dan sampah, kemacetan, hingga persoalan keamanan dan kualitas destinasi Bali itu sendiri.
“Di sisi lain, kami juga melihat masih adanya praktik usaha yang belum memberikan kontribusi optimal terhadap pembangunan daerah, pelestarian budaya Bali, maupun kesejahteraan masyarakat lokal,” katanya.
Karena itu, sektor pariwisata ke depan diharuskan berani membangun sistem industri yang lebih tertib, profesional, transparan, dan berkeadilan. Selain itu juga mampu mengelola pertumbuhan industri dengan lebih baik agar infrastruktur Bali tetap terjaga dan masyarakat lokal tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. “Jangan sampai masyarakat Bali hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri,” katanya.
Terkait persoalan tersebut kata Adnyana, harus dibuat dulu ekosistemnya, sehingga mereka yang selama ini melanggar bisa masuk ke dalam eksosistem. “Dari sini mereka bisa paham tentang peraturan yang ada, apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan,” katanya.
Menurutnya, selama ini sebagian dari pemilik vila yang melanggar tidak tahu terkait aturan yang ada maupun sistem perizinan. Kondisi ini menurutnya bisa terjadi karena kurangnya informasi, sehingga tidak mengetahui kemana dan bagaimana cara mengurus ijin atau pun bertanya terkait apa yang boleh dan tidak.
“Kami di BVRMA memberikan ruang kepada mereka yang belum memiliki izin untuk bergabung belajar bersama, cari solusi bersama apa yang sebenarnya menjadi masalah dalam pariwisata Bali ini,” katanya.
Saat ini, kata Adnyana, ada 70 perusahaan dan ribuan vila yang tergabung dalam BVRMA Bali. Pihaknya pun menyelenggarakan Bali Villa Connect yang kini memasuki tahun kedua sebagai forum industri berskala besar yang mempertemukan villa operator, villa rental and management, travel agent, home-based agent, rent car, penyedia teknologi hospitality, PMS system, amenities supplier, hingga berbagai pelaku industri pendukung lainnya dalam satu ekosistem kolaboratif. (Widiastuti/balipost)





