
DENPASAR, BALIPOST.com – Perguruan tinggi swasta (PTS) di Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang jumlahnya 104 kampus didorong lebih adaptif menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif. Penguatan mutu akademik, percepatan akreditasi, hingga sinkronisasi indikator kinerja utama (IKU) agar menjadi fokus PTS.
Plt. Sekjen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA.,Ph.D., mengatakan perguruan tinggi kini tidak cukup hanya fokus pada aktivitas akademik semata, namun juga harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Ia menekankan pentingnya pelaporan dan pemenuhan standar mutu pendidikan tinggi, termasuk percepatan akreditasi bagi program studi maupun perguruan tinggi yang belum terakreditasi.
“Perguruan tinggi maupun program studi yang belum terakreditasi diharapkan segera memenuhi standar akreditasi yang ditetapkan. Dengan pelaporan yang baik, pemerintah dapat melakukan intervensi kebijakan secara lebih tepat sasaran,” ujarnya pada acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) LLDikti Wilayah VIII yang diikuti 164 peserta dari 105 PTS Bali-NTB, di Kampus Universitas Warmadewa (Unwar), Kamis (21/5) sore.
Menurutnya, pemerintah pusat juga mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia agar terlibat aktif menyelesaikan persoalan di daerah masing-masing melalui inovasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya.
Dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 10 juta orang di Indonesia, potensi sumber daya manusia dari kampus dinilai sangat besar untuk mendukung pembangunan berbasis riset dan inovasi. “Perguruan tinggi diharapkan bisa berkolaborasi membangun daerahnya masing-masing. Potensi mahasiswa sangat besar untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat,” katanya.
Salah satu contoh yang disoroti yakni pengelolaan sampah berbasis bioenzim dan inovasi pengolahan sampah organik menjadi kompos maupun biogas yang dinilai relevan diterapkan di daerah wisata seperti Bali.
Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah VIII, Drs I Gusti Lanang Bagus Eratodi, ST.,MT., menegaskan transformasi pendidikan tinggi tidak hanya berbicara soal penambahan jumlah program studi, namun juga penguatan tata kelola dan kualitas lulusan agar sesuai kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menjaga keseimbangan antara peningkatan akses pendidikan tinggi dengan kualitas akademik dan integritas kelembagaan.
“Perguruan tinggi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan inovasi dan solusi yang berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pimpinan PTS memperkuat sinergi menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang terus berubah, termasuk tantangan digitalisasi, keamanan siber, hingga kebutuhan talenta digital.
Rektor Unwar, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP., mengatakan tantangan terbesar perguruan tinggi saat ini adalah menghasilkan lulusan sarjana, magister, dan doktor yang berkualitas, adaptif, serta memiliki wawasan keberlanjutan.
“Perguruan tinggi memiliki tantangan besar dalam menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan,” katanya. (Ketut Winata/balipost)










