Menko Pangan, Zulkifli Hasan. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan akan mengolah timbunan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi bahan bakar minyak (BBM) bersama BRIN, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), hingga TNI.

“Sebelumnya sampah diubah menjadi listrik, sekarang kita kerja sama lagi (sampah jadi BBM) dengan TNI, teknologinya dari BRIN dan Dikti,” ujar Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, ketika ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (19/5).

Dikutip dari Kantor Berita Antara, Zulhas menyampaikan pengolahan sampah menjadi BBM merupakan bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah.

Baca juga:  Tak Izin Istri Berpoligami, Suami Dituntut 1,5 Tahun Penjara

Pemerintah mendorong timbunan sampah menjadi BBM dengan skema pirolisis atau proses penguraian bahan organik melalui pemanasan suhu tinggi. Zulhas mengungkapkan terdapat enam lokasi yang dibidik untuk proyek sampah menjadi BBM.

“Ada enam (lokasi). Ada di Bantargebang, ada di Bandung, ada di Bali,” ucap Zulhas.

Sebelumnya, tutur dia, pemerintah fokus pada pengolahan sampah menjadi listrik.

Zulhas menjelaskan, perbedaan di antara kedua proyek tersebut terletak pada jenis sampahnya. Untuk proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), pemerintah akan menggunakan sampah-sampah baru.

Baca juga:  Hari Baik untuk Pelantikan, Berikut Ala Ayuning Dewasa 28 Agustus 2025

Sedangkan, untuk proyek sampah menjadi BBM, pemerintah akan menggunakan sampah yang sudah menggunung.

“Kita sudah punya sampah yang menggunung, setinggi gedung 16 lantai. Seperti di Bantargebang. Itu sekarang yang pakai pirolisis. Tumpukan sampah yang tinggi-tinggi itu akan diolah menjadi BBM,” ucap Zulhas.

Melalui paparannya, Zulhas menyampaikan proyeksi timbunan sampah pada 2029 diperkirakan sebanyak 146.780 ton per hari. Lebih jauh, dalam paparannya terdapat lima pilihan teknologi pengolahan sampah. Sebesar12,4 persen dari total sampah diolah dengan pengolahan organik di sumber sampah.

Baca juga:  Putra Jaksa Agung Resmi Pimpin Kejari Gianyar

Kemudian, sebesar 19,8 persen diolah TPS-3R (Reduce, Reuse, Recycle) di bank sampah induk; sebesar 25,3 persen dari total sampah diolah TPST RDF (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu – Refuse Derived Fuel).

Selanjutnya, 20 persen diolah dengan teknologi pirolisis; dan 22,5 persen dari total sampah diolah dalam proyek PSEL.

“Sampah tidak lagi sebagai beban, tetapi sebagai sumber energi dan bagian dari cita-cita kemandirian energi nasional,” kata Zulhas. (kmb/balipost)

BAGIKAN