
DENPASAR, BALIPOST.com – Konsep sustainable green building menjadi arah baru pembangunan ekonomi Bali di tengah derasnya investasi dan pertumbuhan sektor properti serta pariwisata. Demikian mengemuka dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) bertema “Sustainable Green Building: Membangun Kolaborasi Arsitek dan Pengusaha Muda Untuk Masa Depan Berkelanjutan” yang digelar di Universitas Warmadewa, Sabtu (16/5).
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, mengatakan Bali membutuhkan pola pembangunan yang lebih berkelanjutan agar pertumbuhan investasi tidak mengorbankan lingkungan dan identitas budaya daerah.
Menurutnya, konsep green building menjadi penting karena pembangunan hunian maupun akomodasi wisata di Bali terus berkembang secara masif, sementara luas wilayah Bali terbatas.
“Bali harus mulai menerapkan sustainable green building agar pembangunan tidak merusak keseimbangan lingkungan dan budaya,” ujarnya.
Kegiatan Forbisda digelar bersama Ikatan Arsitek Indonesia Provinsi Bali dengan rangkaian seminar bisnis dan arsitektur, business matching, expo tenant, networking, hingga penghargaan bagi pemenang kompetisi business plan dan sayembara desain fasad sekretariat HIPMI Bali.
Ajus, sapaan akrabnya, menilai sektor arsitektur memiliki potensi besar melahirkan bisnis-bisnis baru sekaligus memperkuat identitas budaya Bali. Ia berharap arsitektur khas Bali tidak hanya berkembang di dalam daerah, tetapi juga mampu dikenal hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Dengan lahirnya pengusaha baru di bidang arsitektur, arsitektur Bali bisa dibawa keluar Bali dan semakin dikenal luas,” katanya.
Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara HIPMI Bali dan Universitas Warmadewa sebagai langkah memperkuat kolaborasi pengusaha, akademisi, dan pemerintah dalam pengembangan ekonomi berbasis green building.
Ajus menilai kolaborasi antara dunia usaha, kampus, dan pemerintah menjadi kunci mencetak pengusaha muda baru di Bali. Menurutnya, kebijakan pemerintah sangat berpengaruh terhadap dunia usaha sehingga pelaku bisnis harus mampu membangun komunikasi dan adaptasi terhadap berbagai perubahan regulasi.
Terkait tantangan ekonomi global dan dinamika politik internasional, ia menilai Bali justru memiliki peluang besar menjadi “safe haven” bagi wisatawan dunia apabila didukung infrastruktur memadai dan keterlibatan pelaku usaha lokal.
“Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Pengusaha Bali harus ikut tumbuh bersama investasi yang masuk,” tegasnya.
Saat ini anggota HIPMI Bali tercatat hampir mencapai 700 orang dan terus bertambah setiap tahun. Mayoritas anggota bergerak di sektor konstruksi, pariwisata, travel, dan usaha penunjang industri wisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali. (Suardika/balipost)









