
DENPASAR, BALIPOST.com – Hantavirus telah terdeteksi di Indonesia sejak 2024 lalu dan kini cukup santer diberitakan. Jenis virus yang bersifat zoonosis ini ditularkan oleh hewan pengerat salah satunya tikus. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Denpasar mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus.
Kepala Dinkes Kota Denpasar dr. Anak Agung Ayu Agung Chandrawati saat diwawancarai, Jumat (15/5), mengatakan, ada beberapa upaya yang dilakukan dalam pengendalian hantavirus. Pertama yakni perlunya pengendalian terhadap tikus dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan sekitarnya. “Dalam hal ini masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Selain itu, penting bagi masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan tikus, air liur, urin atau kotoran tikus. Pihaknya turut memberikan sosialisasi tentang cara pencegahan virus hanta kepada masyarakat.
Kemudian dari sisi fasilitas pelayanan kesehatan, Diskes Denpasar juga menginstruksikan kewaspadaan terhadap hantavirus kepada rumah sakit, klinik, puskesmas, hingga laboratorium. Selain itu, melakukan deteksi dini melalui peningkatan peran surveilans dalam sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR).
Disinggung terkait cara penularan hantavirus, dr. Chandra mengatakan, penularan utamanya terjadi melalui hewan pengerat (tikus) ke manusia, bukan antar manusia. “Virus menular saat manusia menghirup debu yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran tikus kering,” katanya.
Adapun secara spesifik dr. Chandra mengatakan, penularan hantavirus dari tikus terjadi karena menghirup partikel debu atau kotoran tikus yang kering saat membersihkan gudang, rumah, atau area kotor. Kemudian, kontak Langsung, yakni menyentuh urine, kotoran, atau air liur tikus lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Gigitan tikus juga mampu menularkan virus namun kasus ini jarang terjadi. Selain itu, mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kotoran tikus juga menjadi media penyebaran hantavirus. “Umumnya hantavirus ini menyebabkan gangguan ginjal dan bukan gangguan pernapasan,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)









