
NEGARA, BALIPOST.com – Proses nekropsi bangkai paus sperma yang terdampar di pesisir Pantai Banjar Anyarsari, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya dilakukan, Rabu (6/5) hingga sore. Setelah nekropsi ini, proses penguburan bangkai satwa laut berukuran besar ini akan dilakukan, pada Kamis (7/5) ini.
Proses nekropsi yang dilakukan sejak Rabu pagi, mengundang penasaran. Petugas kepolisian dan tim gabungan beberapa kali harus mengingatkan warga agar tidak menerobos area pembatas yang dipasang di sekitar lokasi nekropsi.
Proses penanganan sempat terkendala hujan yang sempat mengguyur kawasan pantai. Hingga sekitar pukul 18.00 WITA, proses nekropsi maupun persiapan penguburan bangkai paus belum sepenuhnya selesai.
Relawan Jaringan Satwa Indonesia (JSI), drh. Abdullatif Muhammad, mengatakan paus yang diperiksa memiliki panjang sekitar 17 meter. Nekropsi baru dapat dilakukan pada siang hari karena sebelumnya terkendala kondisi pasang air laut.
“Karena kemarin air laut pasang, proses nekropsi baru bisa dilakukan hari ini. Sampai sore masih berlangsung,” ujarnya di lokasi.
Dari hasil pemeriksaan awal, terdapat beberapa dugaan penyebab kematian paus tersebut. Abdullatif menjelaskan, paus sebagai mamalia laut sangat bergantung pada daya apung air untuk menopang organ tubuhnya.
Saat terdampar di perairan dangkal, kondisi itu dapat memicu crush syndrome akibat tekanan gravitasi pada organ dalam.
Selain itu, paus juga diduga mengalami gangguan pernapasan. Lubang pernapasan atau blow hole yang berada di bagian atas tubuh kemungkinan kemasukan air ketika tubuh paus terombang-ambing di perairan dangkal.
Untuk memastikan penyebab kematian, tim gabungan mengambil lebih dari 20 sampel dari organ tubuh maupun kulit paus untuk diuji di laboratorium, termasuk pemeriksaan DNA.
Di sisi lain, tim menemukan adanya bekas kerusakan pada bagian mulut paus. Diduga ada pihak yang mencoba mengambil gigi mamalia laut tersebut secara paksa.
Mengantisipasi hal yang tak diinginkan, pengamanan di lokasi dilakukap personel Polairud Polres Jembrana bersama Polsek Melaya. Kasat Polairud Polres Jembrana AKP I Putu Suparta mengatakan aparat telah disiagakan sejak awal penemuan paus untuk mengantisipasi pencurian bagian tubuh paus maupun gangguan lain selama proses penanganan. “Anggota sampai bermalam di lokasi untuk melakukan pengamanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan paus dilakukan bersama sejumlah instansi terkait, termasuk JSI dan Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Denpasar. Setelah proses nekropsi selesai, bangkai paus rencananya dikubur sekitar 100 meter dari bibir pantai. Alat berat juga telah disiagakan untuk membantu proses penguburan.
Sebelumnya, paus sperma tersebut pertama kali ditemukan warga terdampar di pesisir Pantai Anyarsari pada Selasa (5/5) siang. Sejak laporan diterima, aparat kepolisian bersama tim terkait langsung melakukan penanganan di lokasi. (Surya Dharma/balipost)










